
OLEH: RM. YUDELFIANUS FON NENO, PR
Pastor Pembantu Paroki Santa Maria Fatima Betun
Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji, itulah akan menjadi makananmu.” (Kej 1, 29).
Seusai Allah menciptakan bumi dan segala isinya, Ia melihat bahwa semuanya baik adanya.
Di antara segala yang diciptakan, manusia adalah ciptaan yang paling istimewa. Manusia dilihat Allah sebagai yang sungguh amat berharga. Kepada manusia diberikan segalanya untuk dimanfaatkan, dipelihara dan dilestarikan.
“Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu”.
Allah menyediakan segalanya bagi manusia, tetapi segalanya tetap milik Allah. Allah memberikan kuasa kepada manusia, tetapi Allah tetap berkuasa untuk segalanya. Kuasa yang diberikan Allah melekat erat dengan kehendak bebas manusia. Allah mengaruniakan kehendak bebas kepada manusia, dan karena itu, Allah tidak dapat mencabut kebebasan manusia, karena mencabut kebebasan manusia berarti pertama-tama, Allah harus mencabut kembali kehendak bebas manusia, sementara hal itu tidak mungkin.
Manusia bebas, sejauh realisasinya tidak melenceng dari koridor kuasa yang diberikan Allah, yakni memanfaatkan, melestarikan dan memelihara. Manusia bebas berkuasa terhadap segalanya, tetapi bukan manusia bebas berbuat apa saja yang dikehendakinya. Eksploitasi alam, illegal logging, pemanasan global dan praktek porak poranda alam, segera dilihat sebagai penyelewengan terhadap garis-garis batas Allah. Dengan demikian, kebebasan manusia untuk bekerja, mengelola alam, hanya dapat dimengerti dalam tanggungjawab yang telah digariskan Allah kepadanya. Tanggung jawab merupakan perwujudan kehendak bebas manusia, untuk turut berpartisipasi dalam karya Allah. Tanggung jawab manusia untuk bekerja merupakan jembatan, yang menjadikannya layak berpartisipasi dalam tindakan Allah mencipta. Tanggung jawab manusia untuk bekerja merupakan perwujudan kehendak bebas manusia untuk mengabdi kepada Allah, Sang Penciptanya.
Sejak setelah Allah menciptakan, semuanya teratur dan indah. Secara partisipatif, manusia terpanggil, dan hanya dengan bekerja, ia memiliki sesuatu yang dapat menunjang hidup dan kesejahteraannya. Allah mencipta dan semua baik adanya. Manusia bekerja dan kesejahteraan dilayakkan baginya. Kesejahteraan manusia adalah karunia Allah, yang tergambar melalui kelimpahan Taman Eden sebelum manusia jatuh dalam dosa. Pasca kejatuhan manusia dalam dosa, kesejahteraan itu tetap ada, namun manusia perlu bekerja.
Allah telah berfirman, dan firman itu menunjukkan kekuasaanNya dalam kata dan tindakan: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji, itulah akan menjadi makananmu” (Kej 1, 29). ***

Diedit oleh Yosef Hello
