
MAUMERE, KeuskupanAtambua.org— Sekitar 800 peserta Nusra Youth Day III mengikuti ziarah ke sejumlah tempat wisata religius, wisata kultur, dan wisata pantai di Maumere, Jumat, 3 Juli 2026. Kegiatan ziarah ini menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian NYD III yang berlangsung di Maumere.

Ziarah tersebut didampingi tiga uskup, yakni Uskup Agung Ende, Mgr. Paul Budi Kleden; Uskup Labuan Bajo sekaligus Ketua Komisi Kepemudaan KWI, Mgr. Max Regus; dan Uskup Larantuka, Mgr. Hans Manteiro. Para peserta sebelumnya telah dibagi panitia ke dalam tiga kelompok dengan rute ziarah yang berbeda.

Setiap kelompok menempuh rute ziarah yang telah disiapkan. Pada akhir ziarah, peserta mengikuti kegiatan Ngopi ; Ngobrol Pintar bersama uskup dengan tema “Berjalan Bersama Membangun Bangsa dan Gereja”.

Salah satu rute yang ditempuh kelompok pertama ialah Patung Bunda Maria Pelindung Segala Bangsa Nilo, Gereja Tua Sikka, dan Sanctuarium Wisung Lela. Setelah mengunjungi tempat-tempat tersebut, peserta mengikuti Ngobrol Pintar bersama Uskup Agung Ende, Mgr. Paul Budi Kleden, di Aula Paroki Lela.

Dalam perjumpaan itu, orang muda diajak untuk memahami ziarah bukan sekadar perjalanan mengunjungi tempat-tempat rohani dan budaya. Ziarah menjadi ruang belajar, ruang mendengar, dan ruang meneguhkan panggilan untuk berjalan bersama membangun Gereja dan bangsa.
Usai Ngobrol Pintar, kegiatan dilanjutkan dengan perayaan Ekaristi bersama. Perayaan ini menjadi penutup rangkaian ziarah kelompok tersebut, sekaligus menegaskan bahwa seluruh perjalanan orang muda Katolik selalu berpuncak pada perjumpaan dengan Kristus.
Panitia berupaya agar berbagai tempat wisata yang ada di Maumere dapat dikunjungi oleh peserta. Dengan demikian, peserta tidak hanya mengenal wajah rohani Maumere, tetapi juga kekayaan budaya, sejarah, dan keindahan alamnya.
Salah satu peserta dari Keuskupan Atambua, Julianus Pareira, mengatakan, ziarah tersebut memberinya pengalaman iman yang kuat. Menurut dia, perjalanan ke tempat-tempat religius dan budaya membuatnya semakin memahami bahwa iman selalu bertumbuh dalam sejarah, budaya, dan kehidupan umat.
“Hari ini saya merasa sangat diteguhkan. Ziarah ini bukan hanya jalan-jalan, tetapi perjalanan iman. Kami belajar bahwa Gereja hidup dalam sejarah, budaya, doa, dan persaudaraan,” ungkapnya.
Sekretaris Komisi Kepemudaan Keuskupan Atambua, Rm. Yudel Neno, Pr, mengatakan, ziarah NYD III memberi pesan penting bagi OMK Atambua. Menurut dia, orang muda perlu belajar membaca jejak iman yang diwariskan para pendahulu.
“OMK Atambua harus melihat ziarah sebagai sekolah iman. Dari tempat-tempat suci dan bersejarah ini, kita belajar bahwa iman tidak dibangun secara instan, tetapi melalui kesetiaan, pengorbanan, dan perjalanan panjang umat Allah,” ujarnya.
Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Atambua, Rm. Yoris Giri, Pr, menambahkan, kegiatan ziarah ini harus melahirkan komitmen baru bagi OMK. Ia berharap peserta dari Keuskupan Atambua semakin berani mengambil bagian dalam kehidupan Gereja dan masyarakat.
“Pesan bagi OMK Atambua ialah berjalanlah bersama, jangan berjalan sendiri. Bangun Gereja dengan iman, bangun bangsa dengan tanggung jawab, dan bangun persaudaraan dengan hati yang terbuka,” katanya.
Ditulis oleh Tim Komsos KA
Editor: Yudel Neno
