
Maumere — KeuskupanAtambua.org – Dalam seminar Orang Muda Katolik yang berlangsung di Aula Ritapiret, Maumere, dalam rangka Nusra Youth Day III, Rm. Patris Neonnub, Pr, yang secara digital dikenal dengan nama Patris Allegro, mengajak orang muda Katolik untuk semakin matang dalam iman, kritis dalam berpikir, dan bijaksana dalam menghadapi dunia digital.
Seminar ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Nusra Youth Day III yang berlangsung di Keuskupan Maumere sejak 1 Juli 2026 dan akan berakhir pada 5 Juli 2026. Kegiatan tersebut dihadiri oleh sekitar 800-an OMK, bersama para Romo, para Uskup, dan sejumlah umat. Hadir pula dalam seminar ini Uskup Larantuka – Mgr. Hans Manteiro, Uskup Maumere – Mgr. Ewal serta Uskup Agung Ende – Mgr. Paul Budi Kleden yang tampil sebagai Keynote Speaker.
Dalam pemaparannya, Rm. Patris mengangkat tema “Padang Gurun Digital dan Pohon Kehidupan” dengan subtema “Panggilan Orang Muda Katolik: Berakar dalam Iman, Hadir dalam Gereja, dan Berdampak bagi Masyarakat.” Melalui tema ini, ia mengajak OMK untuk melihat dunia digital bukan hanya sebagai ruang hiburan dan komunikasi, tetapi juga sebagai medan panggilan, kesaksian, dan pertumbuhan iman.
Rm. Patris menegaskan bahwa dunia digital selalu datang dengan berbagai janji. Ia menyebutkan tiga indikator utama yang sangat memengaruhi hidup orang muda saat ini, yakni koneksi tanpa batas, kecepatan instan, dan panggung virtual. Dunia digital, menurutnya, menjanjikan kedekatan, kemudahan, dan ruang ekspresi yang sangat luas. Namun, janji-janji itu perlu dibaca secara kritis karena tidak semua yang tampak terhubung sungguh membangun persekutuan.
“Dunia digital selalu menjanjikan koneksi, tetapi tidak selalu melahirkan persekutuan,” demikian salah satu penekanan penting yang disampaikan Rm. Patris. Baginya, orang muda Katolik tidak cukup hanya hadir dan aktif di ruang digital. Mereka perlu bertanya apakah kehadiran itu sungguh membangun persaudaraan, memperdalam iman, dan memberi dampak baik bagi sesama.
Secara khusus, Rm. Patris juga menyoroti pengaruh algoritma dalam kehidupan digital. Ia menegaskan bahwa algoritma secara sistematis dapat mendorong kemarahan dan perbandingan diri. Dalam banyak situasi, orang muda tidak lagi hanya menggunakan media digital, tetapi perlahan-lahan dibentuk oleh cara kerja media digital itu sendiri. Luka batin dan krisis identitas sering kali ditutupi oleh filter yang manipulatif. Apa yang tampak indah di layar tidak selalu menggambarkan kebenaran hidup seseorang.
Karena itu, Rm. Patris mengajak OMK untuk tidak mudah terjebak dalam budaya perbandingan diri, pencitraan, dan kebutuhan untuk selalu tampil sempurna. Dunia digital bisa menjadi ruang yang subur untuk karya dan kesaksian, tetapi juga bisa menjadi padang gurun yang mengeringkan jiwa apabila manusia kehilangan akar iman, kehilangan keheningan, dan kehilangan relasi yang sungguh manusiawi.
Dalam kaitannya dengan Gereja, Rm. Patris menyampaikan satu penegasan yang kuat bahwa Gereja bukanlah aplikasi yang bisa di-update sesuai tren. Gereja memang perlu hadir dan berbicara dalam bahasa zaman, tetapi tidak boleh kehilangan identitas, ajaran, dan kedalaman imannya hanya karena ingin mengikuti arus popularitas. Gereja harus tetap menjadi rumah iman, tempat orang muda bertumbuh, bertanya, bergumul, dan menemukan arah hidup.
Rm. Patris juga menegaskan bahwa Gereja yang matang tidak takut kepada pertanyaan. Menurutnya, iman Katolik tidak rapuh hanya karena orang muda berpikir kritis. Sebaliknya, iman dan akal budi perlu berjalan bersama. Orang muda Katolik perlu berani bertanya, tetapi juga perlu rendah hati untuk mencari kebenaran. Dalam dunia digital yang penuh informasi, iman harus menjadi akar, sementara akal budi menjadi jalan untuk membedakan mana yang benar, mana yang menyesatkan, mana yang membangun, dan mana yang menghancurkan.
Pada bagian lain, Rm. Patris memberikan pesan yang sangat relevan bagi kehidupan rohani orang muda. Ia mengatakan bahwa sesudah misa, dunia digital kembali menunggu. Karena itu, ia mengingatkan agar orang muda tidak membawa digital ke dalam Ekaristi, melainkan membawa Ekaristi ke dalam dunia digital. Dengan kata lain, Ekaristi harus membentuk cara OMK hadir, berbicara, berkomentar, membagikan informasi, dan membangun relasi di ruang digital.
Melalui seminar ini, Rm. Patris Neonnub, Pr mengajak para peserta Nusra Youth Day III untuk menjadi orang muda Katolik yang tidak tercerabut dari iman di tengah derasnya arus digital. OMK dipanggil untuk berakar dalam iman, hadir secara aktif dalam Gereja, dan berdampak nyata bagi masyarakat. Dunia digital boleh menjadi ruang luas yang penuh kemungkinan, tetapi orang muda Katolik harus tetap menjadi pohon kehidupan: berakar kuat, bertumbuh sehat, dan memberi buah bagi banyak orang.
Oleh Yudel Neno
