Close Menu
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • DOKUMEN GEREJA
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Sosialisasi BKSN di Dekenat Mena, Peserta Diajak Mengenal Yesus sebagai Guru yang Penuh Kuasa
  • Iman Lahir dari Pendengaran, Tatapan Ekaristis Meneguhkannya
  • Tutup Jumpa Orang Muda se-Nusra, Ketua Komkep KWI Ajak OMK Jangan Kehilangan Arah
  • Dari Ritapiret, Gubernur NTT Ajak OMK Menjadi Generasi Literat, Produktif, dan Kolaboratif
  • Beri Seminar dalam Momen NYD III, Uskup Agung Ende: Jangan Menjadi Generasi yang Teralienasi
  • Ketika Seks Direduksi Jadi Komoditas, OMK Diajak Mengembalikan Tubuh pada Martabatnya
  • Di Aula Ritapiret, Rm. Patris Allegro Ajak OMK Berakar dalam Iman dan Berdampak di Dunia Digital
  • Peserta NYD III Berziarah di Maumere, Uskup Ajak OMK Berjalan Bersama
Facebook Instagram
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • DOKUMEN GEREJA
Login
Keuskupanatambua.orgKeuskupanatambua.org
Home»Berita Keuskupan Atambua»Sosialisasi BKSN di Dekenat Mena, Peserta Diajak Mengenal Yesus sebagai Guru yang Penuh Kuasa
Berita Keuskupan Atambua

Sosialisasi BKSN di Dekenat Mena, Peserta Diajak Mengenal Yesus sebagai Guru yang Penuh Kuasa

Komsos Keuskupan AtambuaBy Komsos Keuskupan AtambuaJuly 25, 2026No Comments60 Views
Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Reddit Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

MENA — KeuskupanAtambua.org – Komisi Kitab Suci Keuskupan Atambua menggelar sosialisasi Bulan Kitab Suci Nasional atau BKSN bagi para penggerak pastoral di wilayah Dekenat Mena. Kegiatan tersebut berlangsung di Pastoran Paroki Santa Filomena Mena, Sabtu (25/7/2026).

Sosialisasi dihadiri 20 peserta yang terdiri dari utusan Seksi Kitab Suci serta para katekis dan katekista dari paroki-paroki se-Dekenat Mena. Kegiatan dipandu oleh Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Atambua, Rm. John Pilis, bersama staf Pusat Pastoral Keuskupan Atambua, Okto Klau.

Sosialisasi tersebut mengusung tema “Yesus Sang Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius.” Melalui tema ini, para peserta diajak mengenal lebih dalam pribadi Yesus yang tidak hanya mengajar melalui perkataan, tetapi juga memperlihatkan kewibawaan dan kuasa melalui tindakan-Nya.

Dalam pemaparannya, Rm. John mengajak para peserta memahami Injil bukan sekadar sebagai sebuah kitab, melainkan sebagai kabar baik yang tumbuh dan diwariskan dalam perjalanan sejarah iman umat Allah.

Ia menjelaskan bahwa pengertian tentang kabar baik mengalami beberapa tahap perkembangan. Dalam Perjanjian Lama, kabar baik diwartakan oleh para nabi sebagai berita penghiburan dari Allah kepada umat yang menderita, baik akibat konflik maupun berbagai persoalan kehidupan lainnya.

Kabar baik kemudian hadir secara nyata dalam kehidupan dan karya Yesus. Yesus membawa penghiburan, melakukan berbagai penyembuhan dan mukjizat, serta mewartakan keselamatan. Seluruh karya tersebut dipahami sebagai tanda hadirnya Kerajaan Allah di tengah kehidupan manusia.

Sesudah kebangkitan Yesus, para murid mewartakan kabar baik tentang Yesus Kristus yang wafat dan bangkit. Pewartaan tersebut pada mulanya disampaikan secara lisan dari satu komunitas kepada komunitas lainnya.

Setelah masa para murid, kabar baik tentang kebangkitan Kristus yang diwariskan secara lisan perlahan-lahan mulai ditulis. Proses itulah yang pada akhirnya melahirkan Kitab Suci sebagai kabar baik yang diwariskan kepada umat beriman.

Menurut Rm. John, sejarah tersebut membantu umat memahami penggunaan kata euangelion, yang berarti kabar baik atau berita gembira.

Dalam pemaparannya, Rm. John menjelaskan bahwa Injil Matius termasuk dalam kelompok Injil Sinoptik bersama Injil Markus dan Lukas. Istilah sinoptik berarti melihat bersama-sama.

Ketiga Injil tersebut melihat objek yang sama, yakni pribadi, karya, dan pengajaran Yesus Kristus. Namun, masing-masing penulis menyajikannya melalui sudut pandang dan penekanan yang berbeda.

Sebagian bahan dalam Injil Matius juga memiliki kemiripan dengan Injil Markus dan Lukas. Sekitar 50 persen isi Injil Matius memiliki kesamaan dengan Injil Markus, sedangkan sekitar 20 persen memiliki kesamaan dengan bahan yang ditemukan dalam Injil Lukas.

Meski demikian, Injil Matius memiliki kekhasan tersendiri. Injil ini disusun dengan pola yang mempertemukan bagian narasi dan pengajaran. Kisah-kisah tentang tindakan Yesus kerap diikuti dengan kumpulan wejangan atau pengajaran-Nya.

Injil Matius juga memiliki corak Yahudi yang kuat. Hal tersebut tampak dari banyaknya kutipan dan rujukan terhadap Perjanjian Lama. Penggunaan kutipan-kutipan itu hendak menunjukkan bahwa seluruh sejarah keselamatan dalam Perjanjian Lama menemukan puncak dan kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus.

“Perjanjian Baru tersembunyi dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru,” kata Rm. John.

Dengan demikian, Perjanjian Baru yang menunjuk kepada Yesus Kristus merupakan puncak dari janji keselamatan yang telah disampaikan dalam Perjanjian Lama.

Rm. John juga menyoroti karakter bahasa Injil Matius yang cenderung lebih halus, lembut, dan menunjukkan penghormatan dibandingkan dengan sejumlah ungkapan dalam Injil lainnya.

Dalam kisah kelahiran Yesus, misalnya, Matius menegaskan bahwa Yesus lahir di Betlehem. Betlehem dikenal sebagai kota Daud. Keterangan tersebut memperlihatkan hubungan Yesus dengan garis keturunan Daud sekaligus menegaskan pemenuhan janji mesianik.

Namun, menurut Rm. John, pribadi Yesus tidak dapat dibatasi hanya oleh gelar, sebutan, atau atribut yang dikenakan manusia kepada-Nya.

“Yesus terlalu besar untuk dipahami melalui setiap atribut yang dikenakan manusia kepada-Nya,” ujarnya.

Pada zaman Yesus, sapaan “guru” merupakan sebutan kehormatan yang digunakan secara luas. Yesus juga disebut sebagai Rabi, meskipun Ia tidak berasal dari golongan rabinik berdasarkan kualifikasi formal sebagaimana berlaku dalam tradisi Yahudi.

Karena itu, sebutan guru bagi Yesus lebih tepat dipahami dalam kerangka guru kebijaksanaan. Ia tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga memperlihatkan jalan hidup yang mengantar manusia kepada kebenaran dan keselamatan.

Dalam Injil Matius, terdapat perbedaan menarik dalam cara para murid menyapa Yesus. Yudas Iskariot menggunakan sapaan “Rabi”, sedangkan para murid lainnya lebih banyak menyapa Yesus sebagai “Tuhan”.

Perbedaan sapaan tersebut menunjukkan bahwa bagi para murid, Yesus bukan sekadar seorang guru atau pengajar. Ia adalah Tuhan yang harus didengarkan, dipercaya, dan diikuti.

Cara Yesus memanggil para murid juga berbeda dari sistem pendidikan pada umumnya. Para murid tidak datang untuk mendaftarkan diri sebagaimana seseorang mendaftar di sekolah. Yesuslah yang terlebih dahulu mendatangi dan memanggil mereka.

“Marilah dan ikutilah Aku,” menjadi bentuk dasar panggilan Yesus kepada para murid.

Panggilan tersebut bersifat radikal karena menuntut seseorang meninggalkan cara hidup lama, keluar dari zona kenyamanan, dan menyerahkan seluruh hidupnya untuk mengikuti Yesus.

Rm. John menegaskan bahwa kabar baik yang dibawa Yesus tidak terlokalisasi pada tempat, kelompok, suku, atau keadaan tertentu. Kabar baik diperuntukkan bagi semua orang.

Perbedaan mendasar antara Yesus dan guru-guru Yahudi lainnya terletak pada sumber kewibawaan pengajaran. Para guru Yahudi biasanya mengutip Kitab Suci atau pendapat guru terdahulu untuk menguatkan perkataan mereka.

Yesus juga mengutip Perjanjian Lama. Namun, kewibawaan perkataan-Nya berasal dari diri-Nya sendiri. Ia memiliki kuasa dalam perkataan sekaligus tindakan.

Yesus mengajarkan apa yang dilakukan-Nya dan melakukan apa yang diajarkan-Nya. Karena itu, orang banyak takjub sebab Ia mengajar sebagai pribadi yang berkuasa.

Dalam kerangka tersebut, Injil Matius menghadirkan Yesus sebagai Musa baru. Musa menerima dan meneruskan firman Allah dari Gunung Sinai, sedangkan Yesus menyampaikan pengajaran dengan kewibawaan yang berasal dari diri-Nya sendiri.

Sebagai Guru, Yesus memiliki harapan yang jelas terhadap para murid-Nya. Para murid pertama-tama dipanggil untuk mendengar dan memahami pengajaran-Nya.

Apa yang telah didengar dan dipahami kemudian harus dilaksanakan dalam kehidupan nyata. Sesudah itu, para murid dipanggil untuk meneruskan apa yang telah mereka terima kepada orang lain.

Dengan demikian, menjadi murid Yesus tidak berhenti pada kemampuan mendengar atau mengetahui pengajaran-Nya. Kemuridan harus berlanjut dalam pemahaman, pelaksanaan, kesaksian hidup, dan perutusan.

Selain penjelasan mengenai tema utama BKSN, Okto Klau memaparkan empat subtema yang akan didalami umat selama pelaksanaan Bulan Kitab Suci Nasional. Keempat subtema tersebut disusun untuk menolong umat mengenal wajah Yesus dalam Injil Matius serta menemukan relevansi pengajaran-Nya bagi kehidupan pribadi, keluarga, komunitas, Gereja, dan masyarakat.

Empat subtema yang akan dibahas selama Bulan Kitab Suci Nasional tersebut adalah:

Subtema pertama untuk pertemuan pertama : Yesus, Guru yang Mengajar tentang Hidup yang Sejati (Matius 5:1-12)

Subtema kedua untuk pertemuan kedua : Yesus, Guru yang Mengajar tentang Tugas Perutusan para Murid (Mat. 10:1-15)

Subtema ketiga untuk pertemuan ketiga : Yesus, Guru yang Mengajar tentang Persaudaraan dalam Iman (Mat. 18:15-20)

Subtema keempat untuk pertemuan keempat: Yesus, Guru yang Mengajar tentang Hidup yang Kekal.

Dalam penjelasannya, Okto Klau tidak hanya menguraikan isi dan arah pendalaman dari keempat subtema tersebut, tetapi juga menjelaskan metode yang akan digunakan dalam pertemuan-pertemuan BKSN.

Metode yang digunakan diklasifikasikan berdasarkan kelompok usia peserta. Bagi kelompok orang dewasa dan orang muda, pendalaman Kitab Suci dilaksanakan dengan menggunakan metode Lectio Divina. Sementara itu, bagi kelompok anak-anak, proses pendalaman dilaksanakan dengan menggunakan metode ibadat yang disesuaikan dengan usia, tingkat pemahaman, serta dunia kehidupan mereka.

Lectio Divina merupakan cara membaca dan merenungkan Kitab Suci dalam suasana doa. Melalui metode ini, umat tidak hanya membaca teks Kitab Suci untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga mendengarkan Sabda Allah, merenungkannya, menanggapinya dalam doa, serta membiarkan Sabda tersebut menggerakkan kehidupan dan tindakan nyata.

Metode tersebut menolong peserta bergerak dari kegiatan membaca menuju perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang bersabda melalui Kitab Suci. Dengan demikian, pendalaman Kitab Suci tidak berhenti pada pemahaman teks, tetapi bermuara pada perubahan sikap hidup dan tindakan iman.

Sementara itu, metode ibadat bagi anak-anak dirancang agar Sabda Allah dapat diperkenalkan dan dihayati melalui suasana yang sederhana, komunikatif, menarik, dan sesuai dengan kemampuan mereka. Melalui doa, bacaan Kitab Suci, nyanyian, gerakan, cerita, dan kegiatan pendukung lainnya, anak-anak dibantu untuk mengenal Yesus serta menghubungkan pesan Kitab Suci dengan kehidupan sehari-hari.

Okto Klau juga menegaskan bahwa dalam seluruh proses pendalaman, peranan paling besar seorang pemandu terdapat pada langkah pengembangan. Pada tahap tersebut, pemandu bertugas membantu peserta mengembangkan pesan Kitab Suci, menghubungkannya dengan pengalaman hidup, serta menemukan bentuk penerapan yang konkret.

Karena itu, pemandu tidak cukup hanya membacakan bahan pertemuan atau menjalankan urutan kegiatan secara mekanis. Pemandu perlu memahami arah, tujuan, pesan utama, pertanyaan pendalaman, dan dinamika yang hendak dibangun dalam setiap pertemuan.

Menurut Okto Klau, sangat penting bagi setiap pemandu untuk membaca rubrik pendampingan dan memahaminya dengan baik sebelum memimpin pertemuan. Rubrik tidak boleh dipandang sekadar sebagai petunjuk teknis, tetapi sebagai pedoman yang membantu pemandu memahami alur, isi, tujuan, serta penekanan dari setiap tahap pendalaman.

“Pemandu yang baik harus selalu kembali untuk membaca dan memahami rubrik,” kata Okto Klau.

Dengan kembali membaca rubrik, pemandu dapat menghindari kesalahan dalam menyampaikan materi, mengembangkan pertanyaan secara tepat, serta menjaga agar proses pendalaman tetap bergerak sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Pemahaman yang baik terhadap rubrik juga memungkinkan pemandu menyesuaikan cara penyampaian dengan situasi, usia, dan kebutuhan peserta tanpa kehilangan pesan utama dari bahan BKSN.

Melalui sosialisasi BKSN tersebut, para peserta diharapkan semakin mengenal pribadi Yesus sebagai Guru yang penuh kuasa serta mampu meneruskan pengajaran-Nya melalui pelayanan Kitab Suci dan katekese di paroki masing-masing.

Para peserta juga diharapkan mampu memfasilitasi pertemuan-pertemuan BKSN secara tepat, baik dengan menggunakan metode Lectio Divina bagi orang dewasa dan orang muda maupun metode ibadat bagi anak-anak. Dengan demikian, Sabda Allah sungguh-sungguh dibaca, direnungkan, didoakan, dipahami, dikembangkan, dihayati, dan diwujudkan dalam kehidupan umat.

Di bagian akhir sosialisasi, Deken Dekenat Mena, dalam penyampaian penutup, menyampaikan terima kasih untuk Komisi Kitab Suci dalam hal ini kepada Romo John Pilis dan juga Pak Okto Klau yang meluangkan waktu untuk datang. Dirinya berharap agar apa yang sudah didapatkan dalam sosialisasi hari ini, ditindak lanjuti nanti di KUB, Lingkungan, Stasi dan Paroki, di bulan September sebagai Bulan Kitab Suci Nasional, nanti.

oleh Yudel Neno

Share. Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BERITA TERKAIT

Tutup Jumpa Orang Muda se-Nusra, Ketua Komkep KWI Ajak OMK Jangan Kehilangan Arah

July 5, 2026

Dari Ritapiret, Gubernur NTT Ajak OMK Menjadi Generasi Literat, Produktif, dan Kolaboratif

July 5, 2026

Ketika Seks Direduksi Jadi Komoditas, OMK Diajak Mengembalikan Tubuh pada Martabatnya

July 4, 2026

Di Aula Ritapiret, Rm. Patris Allegro Ajak OMK Berakar dalam Iman dan Berdampak di Dunia Digital

July 4, 2026

Peserta NYD III Berziarah di Maumere, Uskup Ajak OMK Berjalan Bersama

July 4, 2026

OMK Atambua Apresiasi Umat Paroki Nita, Terima Kasih untuk Rumah dan Hati yang Terbuka

July 4, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

BERITA TERBARU

Sosialisasi BKSN di Dekenat Mena, Peserta Diajak Mengenal Yesus sebagai Guru yang Penuh Kuasa

July 25, 2026

Iman Lahir dari Pendengaran, Tatapan Ekaristis Meneguhkannya

July 23, 2026

Tutup Jumpa Orang Muda se-Nusra, Ketua Komkep KWI Ajak OMK Jangan Kehilangan Arah

July 5, 2026

Dari Ritapiret, Gubernur NTT Ajak OMK Menjadi Generasi Literat, Produktif, dan Kolaboratif

July 5, 2026

Beri Seminar dalam Momen NYD III, Uskup Agung Ende: Jangan Menjadi Generasi yang Teralienasi

July 4, 2026

Ketika Seks Direduksi Jadi Komoditas, OMK Diajak Mengembalikan Tubuh pada Martabatnya

July 4, 2026
KALENDER LITURGI

Tentang Kami
Tentang Kami

Keuskupanatambua.org merupakan website resmi Keuskupan Atambua yang menyajikan update informasi seputar Keuskupan Atambua dan paroki-paroki di wilayah keuskupan tersebut.

Alamat

Alamat:
Jl. Nela Raya No. 17, Lalian Tolu, Atambua 85702, Timor – Nusa Tenggara Timur.

Media Sosial
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • TikTok
© 2026 Keuskupanatambua.org. Designed by Tim Keuskupan Atambua.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?