
MENA — KeuskupanAtambua.org – SMAK Santa Filomena Mena, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, menyiapkan 76 bedeng pertanian untuk ditanami lombok atau cabai. Pengolahan lahan tersebut menjadi bagian dari konkretisasi program Pendidikan Plus dan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di lingkungan sekolah.

Pembuatan bedeng dilakukan setelah tanaman jagung yang sebelumnya dibudidayakan di lahan tersebut selesai dipanen. Lahan yang sama kemudian diolah kembali agar tetap produktif dan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian berikutnya.

Proses pengerjaan berlangsung selama dua hari. Pada Sabtu, 1 Agustus 2026, pekerjaan diprioritaskan pada pembalikan tanah. Tahapan ini dilakukan untuk memperbaiki struktur tanah sekaligus mempersiapkan lahan sebelum memasuki proses pengolahan berikutnya.
Pekerjaan kemudian dilanjutkan pada Senin, 3 Agustus 2026, dengan proses rotari, yakni penghancuran gumpalan-gumpalan tanah menggunakan alat pengolah tanah. Setelah tanah menjadi lebih gembur, pekerjaan dilanjutkan dengan pembentukan bedeng sebagai tempat penanaman lombok.
Dari rangkaian pekerjaan tersebut, terbentuk sebanyak 76 bedeng dengan ukuran panjang yang bervariasi, menyesuaikan kondisi dan luas lahan. Bedeng-bedeng itu selanjutnya akan dipersiapkan untuk proses penanaman, pemupukan, penyiraman, dan pemeliharaan tanaman.
Kepala SMAK Santa Filomena Mena, Romo Zebedeus Nahas, mengatakan bahwa pengolahan lahan tersebut bukan semata-mata kegiatan pertanian atau usaha menghasilkan komoditas tertentu. Kegiatan itu menjadi bagian dari proses pendidikan yang menghubungkan pengetahuan, nilai, keterampilan, dan tanggung jawab peserta didik terhadap alam.
“Apa yang dilakukan ini merupakan bentuk nyata dari Kurikulum Berbasis Cinta dan Pendidikan Plus. Pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman bekerja, mengolah tanah, merawat tanaman, serta belajar bertanggung jawab terhadap lingkungan dan hasil pekerjaan bersama,” kata Romo Zebedeus.
Menurut dia, Kurikulum Berbasis Cinta perlu diterjemahkan ke dalam tindakan konkret yang menyentuh relasi manusia dengan Tuhan, sesama, diri sendiri, dan alam ciptaan. Dalam konteks pengolahan lahan, cinta terhadap alam tidak cukup disampaikan melalui teori, tetapi harus diwujudkan dengan cara merawat, melestarikan, dan mengelola alam secara konstruktif serta produktif.
Pemanfaatan lahan sekolah juga menjadi bagian dari Pendidikan Plus yang terus didorong Keuskupan Atambua. Pendidikan Plus menempatkan sekolah tidak hanya sebagai tempat memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter, keterampilan hidup, kemandirian, kreativitas, dan etos kerja.
Program tersebut menjadi salah satu perhatian Uskup Atambua dalam berbagai kunjungan ke dekenat, paroki, dan lembaga pendidikan. Sekolah-sekolah didorong untuk mengembangkan potensi yang tersedia di lingkungan masing-masing agar proses pendidikan semakin kontekstual dan mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Romo Zebedeus menjelaskan bahwa tanaman lombok yang kelak ditanam akan dirawat oleh para murid dengan pendampingan para guru. Keterlibatan murid dan guru diharapkan menciptakan ruang pembelajaran bersama yang tidak dibatasi oleh hubungan formal di dalam kelas.
Melalui kegiatan tersebut, para murid diperkenalkan pada semangat opus manuale atau kerja tangan. Kerja tangan dipahami bukan hanya sebagai aktivitas fisik, melainkan sebagai sarana pembentukan kedisiplinan, ketekunan, kesabaran, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap setiap proses.
Para murid juga akan belajar bahwa hasil yang baik tidak diperoleh secara instan. Tanah harus diolah, benih harus ditanam, tanaman perlu disiram dan dirawat, sedangkan hasilnya baru dapat dinikmati setelah melewati proses pertumbuhan yang panjang.
Selain membiasakan opus manuale, kegiatan pertanian tersebut diharapkan menumbuhkan semangat kerja sama dan persaudaraan antara murid dan guru. Mereka belajar membagi pekerjaan, saling membantu, menyelesaikan kesulitan bersama, serta bertanggung jawab terhadap keberhasilan maupun kegagalan proses penanaman.
Dalam mendukung keberlanjutan kegiatan pertanian tersebut, SMAK Santa Filomena Mena telah memiliki sumber air berupa sumur bor yang sebelumnya difasilitasi oleh Keuskupan Atambua melalui Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi atau PSE. Kehadiran sumur bor itu menjadi unsur penting karena ketersediaan air sangat menentukan proses penyiraman dan pemeliharaan tanaman, terutama ketika sekolah memasuki musim kemarau.
Atas dukungan tersebut, Romo Zebedeus menyampaikan terima kasih kepada Keuskupan Atambua, khususnya Komisi PSE, yang telah memberikan perhatian nyata terhadap pengembangan sekolah dan pemberdayaan lahan pertanian.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Keuskupan Atambua, dalam hal ini Komisi PSE, yang sebelumnya telah memfasilitasi pembangunan sumur bor sebagai sumber air. Dukungan tersebut sangat berarti bagi sekolah karena air menjadi kebutuhan utama dalam pengolahan lahan dan pemeliharaan tanaman,” katanya.
Menurut Romo Zebedeus, fasilitas sumur bor tidak hanya mendukung kebutuhan teknis pertanian, tetapi juga memperlihatkan adanya sinergi antara lembaga pendidikan dan perangkat pastoral Keuskupan Atambua. Sinergi tersebut memungkinkan gagasan Pendidikan Plus dan Kurikulum Berbasis Cinta diterjemahkan melalui program-program yang nyata, terukur, dan berkelanjutan.
Persiapan 76 bedeng tersebut turut mendapat apresiasi dari Ketua Komisi PSE Keuskupan Atambua, Romo Frederick Oeleu. Setelah menyaksikan perkembangan pengolahan lahan, ia menyampaikan apresiasi dengan mengatakan, “Mantap.”
Sebagai Ketua Komisi PSE Keuskupan Atambua, Romo Frederick juga menyatakan komitmennya bersama tim untuk terus memantau perkembangan kegiatan pertanian di SMAK Santa Filomena Mena. Komisi PSE, kata dia, akan terus memberikan dukungan sesuai kebutuhan dan perkembangan program yang dijalankan sekolah.
Komitmen tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan lahan sekolah bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari kerja bersama untuk membangun kemandirian, kepedulian ekologis, dan pendidikan yang berorientasi pada kehidupan nyata. Dukungan yang diberikan diharapkan dapat membantu sekolah menjaga keberlanjutan program mulai dari pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan hingga pemanfaatan hasil pertanian.
Langkah SMAK Santa Filomena Mena juga mendapat apresiasi dari sejumlah pejabat Kementerian Agama. Apresiasi pertama datang dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Timor Tengah Utara, Marianus Keo.
Saat video proses pengolahan lahan dikirimkan kepadanya melalui aplikasi WhatsApp, Marianus menyatakan salut dan memberikan apresiasi atas langkah yang diambil oleh SMAK Santa Filomena Mena. Menurut dia, pemanfaatan lahan secara produktif merupakan terobosan positif dalam mendukung proses pendidikan di lingkungan sekolah.
Apresiasi juga datang dari Direktur Pendidikan Katolik pada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia, Albertus Triyatmojo, S.S., M.Si.
Setelah menyaksikan video pengolahan lahan yang dikirimkan kepadanya, Albertus menyebut kegiatan tersebut sebagai bentuk konkret pendidikan lingkungan dan pengelolaan alam.
“Wow, keren. Dengan ruang implementasi yang luas, semakin konkret untuk pendidikan lingkungan dan alam,” kata Albertus melalui pesan WhatsApp.
Ia berharap pengembangan lingkungan SMAK Santa Filomena Mena tidak berhenti pada penanaman lombok, tetapi terus diperluas hingga sekolah tersebut memiliki lingkungan hijau, rindang, tertata, dan nyaman untuk kegiatan pendidikan.
“Berharap suatu saat sekolah ini seperti ‘hutan yang rimbun dan tertata dengan apik’, suatu simbol di mana warga sekolah dan masyarakat menikmati segarnya udara dan nikmatnya belajar ‘di tengah hutan’. Semoga,” tulis Albertus.
Harapan tersebut memperluas makna pengolahan lahan yang sedang dilakukan. Lahan sekolah tidak hanya diarahkan menjadi tempat produksi tanaman, tetapi juga dikembangkan sebagai ekosistem pendidikan yang sehat, hijau, produktif, dan ramah terhadap seluruh warga sekolah.
Pengolahan lahan menjadi bedeng-bedeng pertanian sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan berbasis cinta tidak berhenti sebagai slogan. Cinta memperoleh bentuknya ketika pengetahuan melahirkan kepedulian, kepedulian mendorong tindakan, dan tindakan menghasilkan manfaat bagi kehidupan bersama.
Melalui 76 bedeng yang telah disiapkan, SMAK Santa Filomena Mena hendak menanam lebih dari sekadar lombok. Sekolah ini juga berupaya menanamkan etos kerja, kepedulian ekologis, kemandirian, tanggung jawab, dan persaudaraan dalam diri para murid.
Kehadiran sumur bor, dukungan Komisi PSE Keuskupan Atambua, keterlibatan para guru dan murid, serta apresiasi dari berbagai pihak menjadi modal penting bagi keberlanjutan program tersebut. Pendidikan dengan demikian berlangsung melalui kolaborasi, dukungan, kerja tangan, dan kesediaan merawat kehidupan.
Lahan sekolah akhirnya tidak hanya menjadi tempat tumbuhnya tanaman, tetapi juga menjadi ruang pendidikan. Dari tanah yang dibalik, digemburkan, dan dibentuk menjadi bedeng, para murid diajak memahami bahwa cinta kepada alam harus diwujudkan melalui kerja yang tekun, produktif, konstruktif, dan bertanggung jawab.
oleh Yudel Neno
