
Ilustrasi gambar via sumberpengharapan.com
Hati yang tulus melahirkan kebaikan, tetapi hati yang penuh akal bulus melahirkan kejahatan. Bukankah dunia kita saat ini marak oleh kejahatan ketika hukum semarak dipermainkan dan ketulusan berarak dipinggirkan?
Kita juga hidup dan beriman dalam satu kesadaran palsu karena iman kita terpisah dari hidup harian dan nurani, seperti banyak orang Yahudi menjadi orang legalis, yang hatinya penuh basa-basi, yang cuma sibuk perihal luaran seputar hukum najis/halal.
Sebaliknya, Yesus menjadi orang realistis, yang hati-Nya asli bersaksi, yang berani menyingkap makna terdalam dari sebuah hukum yang hadir untuk menyelamatkan manusia.
Bagi-Nya yang menajiskan bukan makanan yang masuk ke dalam tubuh atau tangan yang digunakan untuk memasukkannya tapi rasa, prasangka, niat buruk yang keluar dari hati, pikiran dan mulut kita, bdk Mat 15:11-20.
Tuhan Yesus, tuntunlah kami untuk semakin setia berbakti kepada-Mu, Sumber Penyelenggara Hidup kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.
Selamat pagi dan selamat hari baru. Dalam Yesus kita bersaudara. Tuhan memberkati.
Salam Kasih dan Doa,
Romo Eman Kiik Mau, Pr
