![]()
Perhatian Gereja Katolik terhadap Orang Muda Katolik, selain melalui ruang dan peluang yang disediakan, disediakan pula landasan akademik dan inspirasi melalui dokumen gereja dan pikiran para Paus tentang orang muda. Selain perhatian gereja, Penulis juga mengambil pikiran beberapa filsuf tentang orang muda. Kiranya berkenan bagi para pembaca.
Beberapa di antaranya adalah :
Christus Vivit (2019)
Dokumen ini adalah Seruan Apostolik dari Paus Fransiskus, yang ditulis setelah Sinode Para Uskup tentang Orang Muda, Iman, dan Panggilan tahun 2018. Paus Fransiskus menekankan pentingnya peran orang muda dalam Gereja dan mengajak mereka untuk aktif dalam kehidupan gereja serta mengembangkan hubungan pribadi dengan Kristus. Dokumen ini juga berbicara tentang harapan, tantangan, dan panggilan orang muda Katolik di zaman modern.
Evangelii Gaudium (2013)
Dalam Evangelii Gaudium (Sukacita Injil), Paus Fransiskus menekankan pentingnya evangelisasi di kalangan semua umat beriman, termasuk orang muda. Paus mengajak orang muda untuk berani menjadi pewarta Injil di tengah dunia yang sering kali berhadapan dengan sekularisasi dan tantangan-tantangan sosial.
Dokumen Sinode Para Uskup 1985 (Tentang Orang Muda)
Sinode Para Uskup tahun 1985 membahas banyak hal yang berkaitan dengan peran orang muda dalam Gereja dan masyarakat. Sinode ini menegaskan pentingnya pembinaan iman bagi kaum muda, serta peran mereka sebagai agen perubahan dalam Gereja dan dunia.
Pesan Paus pada Hari Orang Muda Sedunia (World Youth Day)
Setiap Hari Orang Muda Sedunia (WYD), Paus mengeluarkan pesan khusus yang biasanya berfokus pada tantangan yang dihadapi orang muda, serta bagaimana mereka bisa menemukan jalan menuju Kristus. Pesan-pesan ini memberikan arahan spiritual dan dorongan bagi generasi muda untuk terlibat aktif dalam Gereja dan kehidupan sosial.
Gaudium et Spes (1965)
Meskipun bukan dokumen yang secara khusus berbicara tentang orang muda, Gaudium et Spes (Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Modern) dari Konsili Vatikan II berbicara tentang peran umat beriman, termasuk orang muda, dalam menghadapi tantangan zaman modern. Dokumen ini mengakui pentingnya pemuda sebagai bagian dari misi Gereja dalam dunia kontemporer.
Dokumen-dokumen ini menggambarkan betapa Gereja Katolik sangat menghargai peran orang muda dan mendorong mereka untuk aktif berpartisipasi dalam misi evangelisasi serta pelayanan di tengah masyarakat.
Selain pikiran para Paus, beberapa Filsuf di bawah ini turut memberi kontribusi pemikiran tentang orang muda. Kiranya dapat menginspirasi para pembaca, terutama para orang muda. Pernyataan para Filsuf berkosentrasi pada peranan orang muda entah dalam konteks pendidikan, pengembangan karakter maupun di tengah kehidupan bermasyarakat.
Plato
Plato dalam “The Republic” membahas pentingnya pendidikan bagi orang muda. Dia percaya bahwa orang muda harus dilatih dalam seni, filsafat, dan olahraga sejak dini untuk membentuk karakter dan moral mereka. Plato memperingatkan bahwa jika pendidikan tidak dikelola dengan baik, orang muda dapat terjebak dalam kenikmatan fisik dan kesenangan duniawi.
Sumber: The Republic, Plato (Book II & III)
Aristoteles
Dalam “Nicomachean Ethics”, Aristoteles menyatakan bahwa orang muda tidak cocok untuk studi etika karena mereka cenderung mengikuti nafsu dan emosi daripada rasionalitas. Menurutnya, kematangan moral dan kemampuan untuk memahami konsep etika muncul seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman hidup.
Sumber : Nicomachean Ethics, Aristoteles (Book I, Chapter 3)
Jean-Jacques Rousseau
Rousseau dalam “Emile, or On Education” menekankan bahwa orang muda harus dibimbing secara alami dan tidak dipaksa untuk mengikuti konvensi sosial. Rousseau percaya bahwa pendidikan yang terlalu dini dalam norma-norma sosial dapat merusak kreativitas dan kebebasan alami anak-anak.
Sumber: Emile, or On Education, Jean-Jacques Rousseau (Book I)
Immanuel Kant
Kant berpendapat bahwa pendidikan adalah cara untuk membebaskan manusia dari ketidakdewasaan intelektual. Menurut Kant, orang muda cenderung malas berpikir sendiri dan harus dibimbing melalui pendidikan yang baik untuk belajar berpikir secara mandiri.
Sumber: Was ist Aufklärung?, Immanuel Kant (1784)
Friedrich Nietzsche
Nietzsche dalam karyanya “Thus Spoke Zarathustra” berbicara tentang pentingnya pemberontakan orang muda terhadap nilai-nilai tradisional. Dia melihat orang muda sebagai agen perubahan yang perlu menghancurkan nilai-nilai lama untuk menciptakan nilai-nilai baru yang lebih kuat dan sesuai dengan kehidupan.
Sumber: Thus Spoke Zarathustra, Friedrich Nietzsche (Prologue)
Confucius (Kong Fuzi)
Confucius berpendapat bahwa orang muda harus menghormati orang tua dan leluhur mereka serta mematuhi norma-norma sosial. Dia percaya bahwa pendidikan dan disiplin adalah kunci untuk membentuk generasi muda yang berbakti dan bertanggung jawab dalam masyarakat.
Sumber: The Analects of Confucius (Book I, Chapter 6)
Setiap filsuf memberikan perspektif berbeda tentang bagaimana orang muda dipahami dan dibentuk, sering kali mencerminkan konteks budaya dan sosial zamannya.
Diringkas oleh Rm. Yudel Neno, Pr (Sekretaris Komisi Kepemudaan Keuskupan Atambua)
