
Opini – KeuskupanAtambua.org – Konklaf: Dari Extra Omnes Hingga Habemus Papam – Annuntio vobis gaudium magnum:Habemus Papam – oleh Dr. Doddy Sasi, CMF
Setelah wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April 2025 lalu, sebuah momen penting terbuka bagi Gereja Katolik. Seorang penerus harus dipilih untuk menjalankan kepemimpinan spiritual yang baru bagi Vatikan, negara terkecil di dunia ini. Pemilihan Paus baru sebiasanya dilakukan melalui pemungutan suara yang paling menarik dan unik yang pernah ada, yakni melalui: Konklaf. Konklaf menjadi bentuk pemungutan suara yang sangat khusus, yang dilakukan secara spiritual dan liturgis dengan ritual tertentu. Dan setelah Vatikan memutuskan bahwa Konklaf akan dimulai pada, 7 Mei 2025, ada begitu banyak pertanyaan yang berseliweran muncul, salah satunya tentang apa itu Konklaf dan bagaimana cara kerja Konklaf?
Konklaf
Istilah Konklaf diambil dari kata bahasa Latin *Cum Clave*, yang berarti ‘terkunci dengan kunci’ atau ‘di bawah kunci’. Kisah historis nama ini diambil dari episode sejarah yang terjadi pada tahun 1270 ketika penduduk kota Viterbo, pusat kepausan saat itu, memutuskan untuk mengurung para kardinal di dalam istana kepausan dan membuka atapnya untuk mempercepat pemilihan Paus yang baru. Saat itu yang yang terpilih adalah Gregorius X. Tapi fakta historis pemilihan pertama pengganti Petrus di tempat yang dikurung dan diisolasi dari orang-orang terjadi pada tahun 1118, ketika para kardinal bertemu di Roma, di Biara San Sebastiano di Bukit Palatino dan saat itu Gelasius II yang terpilih menjadi Paus.
Di antara Konklaf yang tercatat dalam sejarah, ada satu Konklaf yang paling lama yakni konklaf tahun 1270 di Viterbo dimana setelah 1006 hari barulah terpilih Gregorius X sebagai Paus. Dan konklaf tercepat yang pernah ada adalah konklaf yang menghasilkan pemilihan Paus Yulius II pada tahun 1503. Paus Yulius II terpilih secara cepat dalam waktu 10 jam.
Konklaf kita kini tetap dalam arti yang sama yakni sebagai momentum pertemuan para kardinal yang secara tradisional berlangsung di Kapel Sistina dalam mode ‘terkunci’, tertutup bagi dunia luar dan dengan sangat rahasia. Kata konklaf juga merujuk pada arti dari pertemuan para kardinal dari seluruh dunia di Vatikan setelah kematian atau pengunduran diri seorang Paus, untuk memilih penggantinya, dengan cara yang ditetapkan oleh hukum khusus Gereja.
Awal dari Konklaf
Ritus pembuka konklaf dimulai dengan perayaan misa yang disebut misa *“Pro Eligendo Romano Pontefice*”: di mana para kardinal berkumpul di Basilika Santo Petrus sebelum Konklaf untuk memohon kepada Roh Kudus agar membimbing mereka dalam memilih Paus yang baru. Di sisi lain, pada sore hari, para kardinal pemilih – yaitu, mereka yang akan memberikan suara dalam pemungutan-pemungutan suara, berkumpul di Kapel Paolina di Istana Kepausan – yang letaknya tidak jauh dari Kapel Sistina, Kapel di mana pemungutan suara akan berlangsung. Masing-masing dari mereka mengenakan jubah merah, yang ditambahkan dengan *rochetto*, yaitu jubah renda putih, *mozzetta*, yang menutupi bahu, dan *berretta*, penutup kepala yang biasanya dikenakan pada perayaan-perayaan besar Gereja. Prosesi menuju Kapel Sistina kemudian dimulai, diiringi dengan nyanyian litani para kudus.
Dengan tidak adanya Kardinal Giovanni Battista Re dan Kardinal Leonardo Sandri, yang dikecualikan karena batasan usia, kemungkinan besar Kardinal Vincenzo Parolin-lah, sebagai yang paling senior dengan penunjukan di antara para kardinal (pada tingkatan Kardinal Uskup), yang akan melaksanakan tugas-tugas dekan, termasuk menanyakan kepada kardinal yang terpilih apakah dia menerima pemilihan dan dengan nama apa dia ingin dipanggil.
Extra Omnes
“Extra omnes” (‘Semua keluar’), adalah frasa yang digunakan untuk menandai dimulainya Konklaf. Frase “Extra Omnes” diucapkan di Kapel Sistina. Frase Extra Omnes biasanya diumumkan oleh Kepala Perayaan Liturgi Kepausan, yang secara resmi memulai proses pemungutan suara. Mulai saat ini, pintu-pintu Kapel Sistina akan ditutup dan para kardinal dapat menikmati lukisan dinding Penghakiman Terakhir karya Michelangelo Buonarroti. Setelah menutup semua kontak dengan dunia luar, para kardinal mengucapkan sumpah di mana mereka berjanji untuk menghormati batasan-batasan Konstitusi, untuk dengan setia melayani sebagai paus jika mereka terpilih, dan merahasiakan apa yang terjadi selama periode pemungutan suara. Kemudian, semua kardinal yang memiliki hak electoral mengucapkan lagi sumpah di atas empat Injil Markus, Matius, Lukas dan Yohanes, memohon pertolongan Tuhan dalam memenuhi tugas mereka. Saat ini terdapat 133 kardinal yang memiliki hak elektoral dalam konklaf.
Pemungutan Suara
Seorang Paus baru terpilih melalui pemungutan suara. Fase pemungutan suara dibagi menjadi tiga tahap:
Pertama, *tahap sebelum pemungutan suara*: pada tahap ini, pemungutan suara “diatur” dengan tiga lembar surat suara untuk setiap kardinal, untuk penunjukan tiga pengawas, tiga auditor, dan tiga orang yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan suara dari para kardinal yang tidak lagi kuat atau yang tidak sehat. Setiap surat suara telah diisi dengan frase Latin *“Eligo in Summum Ponteficem”*, di mana setiap kardinal menulis nama kandidatnya.
Kedua, *tahap pemungutan suara*: setelah menuliskan “papabile” (nama calon Paus), lembar surat suara dilipat menjadi dua dan diletakkan di atas piring, lalu diikuti lagi dengan sebuah sumpah, dimasukkan ke dalam kotak suara. Kerja pertama adalah penghitungan, yang memverifikasi jumlah suara yang sesuai. Dua dari tiga kardinal yang bertanggung jawab atas penghitungan membacakan nama di setiap surat suara, yang ketiga membacanya dengan suara keras dan mengikatnya dengan seutas tali untuk membentuk semacam kalung.
Ketiga, *tahap setelah pemungutan suara*: jika kuorum dua pertiga tidak tercapai, pemungutan suara baru diadakan lagi secara langsung. Jika kuorum tercapai, pemilihan Paus yang baru dianggap sah. Baik dalam kasus tidak ada yang terpilih, maupun dalam kasus sudah ada yang terpilih, surat suara yang dihubungkan dengan seutas benang dibakar untuk menciptakan momen yang menandakan kepada umat akan hasil dari pemungutan suara.
Cerobong Asap: Hitam atau Putih
Setiap hari, untuk memilih pengganti Paus Fransiskus, akan ada dua kali asap: satu pada akhir pagi (sekitar jam 12 siang) dan yang lainnya pada jam 7 malam (19.00 Waktu Roma). Pada akhir setiap pemungutan suara, surat suara dibakar. Alasan suarat suara dibakar adalah untuk menjaga kerahasiaan, dengan cara ini tidak ada tanda nyata dari pemungutan suara yang tersisa mengenai pemilihan.
Surat suara dibakar dengan tambahan pewarna: hitam, jika tidak ada yang terpilih; putih, jika Bapa Suci yang baru telah terpilih. Asap yang mengepul dari cerobong asap Istana Kepausan, juga memberi tahu umat beriman yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus tentang tidak adanya pemilihan atau pemilihan. Asap berwarna putih hanya jika Paus yang baru menerima keterpilihannya.
Ketika para kardinal mulai menyadari dari pembacaan nama-nama bahwa Paus yang baru telah terpilih, mereka mulai bertepuk tangan. Pada titik ini, Paus yang baru terpilih diberi pertanyaan berikut, dalam bahasa Latin: *“Apakah Anda menerima pemilihan kanonik Anda sebagai Paus?”*. Setelah jawaban positif dari Paus yang baru, dia ditanya, sekali lagi dalam bahasa Latin: *“Quo nomine vis vocari?”*, yaitu, apa nama yang anda inginkan untuk dipanggil?. Setelah nama dipilih, asap putih pun mulai mengepul. Paus yang baru juga akan diberi waktu beristirahat di ‘Ruang Air Mata’ (Stanza delle lacrime), di sakristi Kapel Sistina, untuk kemudian mengenakan jubah putih suci kepausan tampil di hadapan para kardinal, diiringi nyanyian Te Deum.
Habemus Papam
Momentum yang paling dikenal dari seluruh rangkaian Konklaf yakni pengumuman kepada dunia dari Paus yang baru terpilih. Dari serambi tengah Basilika, Kardinal Protodiakon akan mengucapkan kalimat: *”Annuntio vobis gaudium magnum: habemus papam!”* (Aku mengumumkan kepada anda kabar sukacita besar: Kita memiliki Paus!). Frasa ini menandai akhir dari Konklaf. Kemudian Paus baru akan tampil di hadapan publik untuk menyapa umat beriman dan memberikan berkat pertamanya.

Penulis : Dr. Doddy Sasi, CMF, Editor : Rm. Yudel Neno, Pr
