Pater Vikjen Keuskupan Atambua

Yohanes 19:26-27:”Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.”

Setelah kita rayakan pesta Salib Suci, hari ini kita menghormati seseorang yang sangat dekat dengan Yesus dalam penderitaan-Nya. Maria sebagai seorang ibu merasakan penderitaan yang sangat memilukan saat menyaksikan darah dagingnya mati di salib. Ia turut merasakan derita Puteranya dalam dirinya. Paus Benediktus XVI mengatakan:”kita merenungkan Maria yang turut merasakan kasih Puteranya bagi pendosa. Sebagaimana St. Bernardus serukan, ibu Kristus masuk dalam derita Puteranya lewat rasa kasihnya.”Maria tidak mengeluh dan melawan para serdadu yang menganiaya Puteranya. Ia turut mengambil bagian di dalam iman Puteranya bahwa tindakan kekerasan tidak akan berakhir, bahwa bagaimanapun juga Allah akan membalas kebaikan berlipat ganda dari penderitaan itu, bahwa Allah menyelamatkan dunia lewat penderitaan itu. Maria memiliki iman yang kokoh tapi tidak berarti dia tidak menderita dan berduka.

Kita dipanggil seperti Maria untuk menyatukan derita pribadi kita pada Salib Yesus dan dalam cara itu kita mengambil bagian dalam Tubuh-Nya demi keselamatan dunia. Mampukah kita turut mengambil bagian dalam derita Yesus seperti ibu Maria hingga sampai ke kaki salib Yesus? Ataukah hidup kita hanya penuh dengan keluhan dan caci maki? Kita berdoa:”Yesus kekasihku, ibu-Mu turut ambil bagian dalam karya-Mu untuk menyelamatkan dunia ini. Segala penderitaan yang disatukan dengan Salib-Mu, menjadi sumber selamat bagi dunia. Beri kami iman untuk percaya akan kebenaran itu sehingga segala derita kami yang kami satukan dengan derita-Mu akan menjadi berkat bagi keluarga dan sesama kami. Amin.”
Salam dan doa.
P. Vincentius Wun, SVD
Editor : Okto Klau

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here