
Santa Elisabeth dari Hungaria. Sumber: hidupkatolik.com
Ratapan Yesus merupakan ungkapan lintas masa. Bisa ditilik ke masa lampau. Juga melihat masa sekarang. Dan menuju apa yang akan terjadi masa yang akan datang.
Yerusalem seperti saat ini juga bagai gadis cantik nan bingung. Ia tidak tahu mau jadi apa hidupnya. Embel kota suci dalam sekejap diobrak oleh keegoisan. Yesus tahu betul lintas masa kota ini. Maka, ratapan Yesus lahir dari membaca kiprah kota suci ini. Allah yang hadir di sana jadi sumber label kota suci. Allah memang hadir di dunia dan masuk dalam kehidupan manusia. Di Yerusalem, Allah merasakan kerasnya kehidupan manusia. Manusia spiritual dikakahkan oleh manusia yang penuh serakah. Iman merayap diantara dikotomi ini: jasmani dan rohani.
Masa depan Yerusalem akan muram. Ia cenderung menjauhkan diri dari Tuhan. Itulah yang sedang diratapi oleh Yesus. Yerusalem cuek pada tanda kehadiran Allah berupa Bait Allah. Ia mengaku sebagai Rumah Tuhan dan dalam waktu yang sama ingin menjauhkan diri dari Tuhan. Ini ironi. Ratapan Yesus beranjak dari situasi ini.
Kita bisa jadi masuk dalam sejarah Yerusalem. Menerima segalanya dari Allah. Lalu melupakan Allah.
Hari ini Yesus mengundang kita untuk mendengarkan suara-Nya. Jangan cuek seperti Yerusalem. Allah selalu hadir bersama kita dan setia mendengarkan keluh kesah kita.
Hari ini Gereja memperingati Santa Elisabeth dari Hungaria. Menurut Paus Yohanes Paulus II, Elisabeth telah menginspirasi penghargaan yang tinggi terhadap martabat kaum perempuan. Elisabeth meninggal 16 November 1231 dan dikanonisasi tahun 1235. Kaisar Frederikus II yang memimpin prosesi pemakaman Elisabeth menulis kepada Saudara Elias, penerus Santo Fransiskus: Yang Mulia Elisabeth, yang sangat disayangi Tuhan, yang berasal dari garis keturunan termasyhur, yang telah menerangi kabut dunia ini sebagai bintang fajar.
Tuhan Yesus, tuntunlah kami untuk senantiasa setia berbakti kepada-Mu dan menjadikan Dikau segala-galanya. Santa Elisabeth, doakanlah kami. Amin.
Selamat pagi dan selamat hari baru. Dalam Yesus kita bersaudara. Tuhan memberkati.
Salam Kasih dan Doa:
Romo Eman Kiik Mau, Pr
