Santa Clara, ashepamicuba.com


Ajaran tentang pengampunan disampaikan hari ini kepada para murid-Nya. Petrus yang bertanya tentang pengampunan itu. Jawaban Yesus sangat jelas bahwa mengampuni itu tanpa batas.

Ungkapan Yesus, “sampai tujuh puluh kali tujuh kali” adalah jumlah yang ingin menyatakan ketidakterbatasan. Mengampuni itu tidak mengenal batas. Kita selalu dan selalu harus mengampuni sesama.

Dasar pengampunan kita adalah Allah sendiri. Allah sendiri di dalam cerita perumpamaan itu mengampuni dosa-dosa kita yang besar jumlahnya itu. Maka sepatutnya kita manusia juga saling mengampuni.

Pengampunan berarti menerima orang lain dalam kehidupan kita tanpa memperhitungkan dosa atau kesalahannya. Kita menerima dia karena dia adalah saudara kita. Dalam Doa Bapa Kami, kita selalu berseru, “Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”

Semoga hati kita juga terbuka seperti hati Bapa untuk selalu mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Pengampunan itu tanpa batas.

Paus Fransiskus pernah memberikan pernyataan seperti ini, “Tidak ada keluarga yang sempurna. Kita tidak punya orangtua yang sempurna. Kita tidak sempurna, tidak menikah dengan orang yang sempurna. Kita juga tidak memiliki anak yang sempurna. Kita memiliki keluhan tentang satu sama lain. Kita kecewa dengan satu sama lain.”

Karena ketidaksempurnaan itu, orang bisa berbuat salah. Komunikasi bisa berubah menjadi konflik. Kebersamaan bisa menjadi retak. Oleh karena itu, Bapa Suci Paus Fransiskus mengharapkan agar setiap pribadi memiliki keutamaan yaitu pengampunan.

Pengampunan itu penting untuk kesehatan emosional kita dan kelangsungan hidup spiritual. Pengampunan itu adalah sterilisasi jiwa, penjernihan pikiran dan pembebasan hati. Siapa pun yang tidak memaafkan, tidak memiliki ketenangan jiwa dan persekutuan dengan Allah.

Hari ini Gereja memperingati Santa Klara, Perawan. Ia lahir di Assisi Italia, 16 Juli 1194. Ia hidup dengan jaminan material yang berkecukupan. Walau demikian, ia tumbuh jadi seorang gadis yang bersahaja. Ia kagum akan cara hidup Santo Fransiskus Assisi, rekan sekampung yang rela meninggalkan segala miliknya untuk pengabdian kepada Allah sungguh amat memengaruhi hidupnya.

Pada tahun 1212, pada usianya yang ke-18 tahun, Klara meninggalkan rumah dan menemui Santo Fransiskus untuk menerima jubah kasar dan miskin sebagai tanda kesungguhan hatinya untuk mengabdi Kristus.

Cinta akan kemiskinan demi Kristus membuka hati bagi orang lain dan membuat kita kaya akan cinta kasih. Marilah kita memilih hal yang baik seperti yang diamalkan oleh Santa Klara.

Santa Klara, Perawan telah meyakinkan kita semua bahwa penderitaan yang kita hadapi tidak seimbang dengan segala kebahagiaan yang akan kita peroleh kelak. Ia berkata, “Berbahagialah jiwa, yang diperbolehkan menghayati hidup ini bersama Kristus dan dengan sepenuh hati berpaut kepada-Nya.

Allah Bapa Maha Baik. Syukur bagi-Mu karena Engkau senantiasa memberi waktu dan kesempatan kepada kami untuk berbuat kebaikan. Kuatkanlah kami agar kami mampu menjawab undangan-Mu untuk memaknai hidup menuju keselamatan. Kiranya kami selalu setia dan jujur dalam mengikuti Dikau. Santa Klara, doakanlah kami. Amin.

Selamat pagi dan selamat hari baru. Dalam Yesus kita bersaudara. Tuhan memberkati.
Salam Kasih dan Doa,
Romo Eman Kiik Mau, Pr

SHARE