
Renungan Harian oleh Rm. Marselinus Nai Kei, Pr
Neh. 8:1-4a, 5-6. Luk. 10:1-12
Tugas perutusan Yesus adalah mewartakan Injil atau Kabar Gembira tentang datangnya Kerajaan Allah, yaitu kedamaian, kerukunan, keadilan, kebenaran dan cinta kasih. Dalam menjalankan misi perutusan ini, Yesus mengikutisertakan murid-murid-Nya. Yesus menyadari bahwa misi perutusan-Nya ini harus diteruskan oleh murid-murid-Nya. Tujuanya agar Kabar Gembira tentang Kerajaan Allah ini dapat diketahui dan diterima oleh semua orang.
Melihat medan pelayanan yang luas, tantangan dan kesulitan yang begitu banyak, maka Yesus tidak saja mengandalkan keduabelas murid-Nya. Ia membutuhkan bantuan personil lainnya, untuk menambah barisan pelayan dan pewarta. Sebab misi perutusan bukan hanya menjadi tanggung jawab segelintir orang, tetapi harus menjadi tanggung jawab bersama semua orang. Semua orang diajak, semua orang dilibatkan, semua orang diberi peran. Prinsipnya adalah bekerja bersama-sama demi terciptanya Kerajaan Allah di dunia. Benar apa yang disampaikan oleh Yesus, Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit karena itu mintalah kepada Tuhan yang empunya tuaian supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu (Luk. 10:2). Kata-kata Yesus ini adalah kiasan yang menggambarkan bahwa sudah ada banyak orang yang siap untuk dihantar masuk ke dalam Kerajaan Allah. Masalahnya adalah karena pekerja yang siap menuai sangatlah sedikit.
Sebagaimana yang terjadi dengan pengutusan kelompok dua belas rasul, Yesus mengutus kelompok tujuh puluh murid dalam Injil hari ini. Ke-70 murid ini bukanlah orang-orang yang baru mengenal Yesus kemarin sore. Mereka pasti merupakan orang-orang yang telah banyak melihat sendiri, mendengar sendiri bahkan mengalami sendiri bagaimana kuasa yang dimiliki oleh Yesus. Mereka tahu kalau Yesus mengutus mereka, dan Yesus memiliki kuasa, dan mereka yakin sungguh-sungguh akan kuasa itu. Resiko yang bakal terjadi dengan tugas perutusan ini pun mereka sudah tahu. “Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala”(Luk. 10:3), berat, penuh tantangan dan kesulitan: siap ditolak, dicerca, bahkan siap untuk mati dibunuh. Apapun resikonya tetap berpedoman pada kesetian Yesus. Bahaya dan ancaman selalu datang, tetapi mereka harus tetap percaya kepada Allah. Para murid harus memusatkan seluruh diri pada tujuan perutusan mereka, yaitu mempersiapkan kedatangan Yesus.
Syarat yang dipatok oleh Yesus bagi seorang pewarta adalah pertama, jangan membawa apa-apa (pundi-pundi, bekal dan kasut), artinya para utusan harus lebih banyak mengandalkan Allah daripada memikirkan kebutuhan duniawi. Bekal tidak perlu dibawa karena Allah yang menjadi jaminan bagi hidup mereka. Sarana-sarana duniawi harus ditinggalkan karena mereka harus mengandalkan sarana yang diberikan Allah sendiri. Sebab mereka mendapat kuasa dari Allah. Kedua, jangan beri salam kepada siapa pun di tengah jalan, artinya seorang pewarta jangan hanya karena memberi salam di tengah jalan, lantas lupa pada tujuan yang sesungguhnya. Ketiga, katakan lebih dahulu: Damai Sejahtera bagi rumah yang dimasuki, artinya bahwa bagi seorang pewarta kehadirannya adalah membawa misi Allah yaitu menghadirkan damai dan sukacita. Jangan mengharapkan orang lain terlebih dahulu menyapa dan memberi salam kepada kita. Kondisi batin orang-orang yang mendengarkan salam seorang pewarta sangat menentukan makna dan daya guna sebuah salam damai. Apabila kondisi batinnya baik dan layak, maka salam itu akan tinggal dan bertahan, tetapi jika kondisi batinnya tidak baik, maka salam itu akan kembali kepada sang pewarta. Kempat, jangan berpindah-pindah rumah. Berpindah-pindah rumah yang dimaksudkan oleh Yesus di sini adalah mental mencari nyaman untuk diri sendiri. Ketika merasa tidak nyaman di suatu tempat, kita akan segera meminta untuk pindah ke tempat lain. Mental seperti ini sangat tidak cocok dengan spirit seorang pewarta. Sebab bagi seorang pewarta pertama-tama bukan untuk mencari kenyaman, melainkan menjalankan misi Kerajaan Allah. Yang pasti Tuhan menjamin keselamatan dan kesejahteraan orang-orang pilihan-Nya, tidak akan ada seorang pekerja pun yang dibiarkan terlantar dan kelaparan.
Tugas pokok yang diamanatkan kepada ke-70 murid yang diutus oleh Yesus adalah mempersiapkan kedatangan Yesus dengan menyembuhkan orang-orang sakit dan memberitakan atau mengatakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Menjadi murid Yesus berarti siap diutus untuk mewartakan Kerajaan Allah demi keselamatan semua orang. Kerajaan Allah sudah dekat, diterima atau pun tidak, Kerajaan Allah tetap datang dan tidak dapat digagalkan. Kerajaan Allah merupakan suatu realitas eskatologis yang sekarang telah membelah masuk ke dalam dunia dalam kedatangan Yesus. Melalui kehadiran Yesus, Kerajaan Allah hadir di antara manusia namun pemenuhannya masih dinantikan di masa depan. Kerajaan Allah ini masih akan datang dalam arti bahwa pemerintahan Allah ini belum sepenuhnya menjadi kenyataan di dunia ini.
Tugas mewartakan Kerajaan Allah akan terus berlangsung sampai akhir zaman. Gereja pun diutus seperti ke-70 murid: pergi ke tengah dunia dan mewartakan Kerajaan Allah dengan kata dan perbuatan agar banyak orang diselamatkan. Tugas perutusan dapat kita laksanakan sesuai dengan bidang tugas dan panggilan hidup kita masing-masing. Jadilah pelayan dan pewarta yang sungguh mau terlibat secara aktif dalam gerakan keselamatan dan kehidupan dunia. Terlebih di tengah masa pandemi Covid-19, kata dan perbuatan kita harus menguatkan, meneguhkan iman umat, bukan sebaliknya meresahkan, mengecewakan bahkan menakuti mereka. Apalagi hal ini dilakukan oleh seorang pemimpin umat, sangat disesalkan.
Marilah kita menjadi pelayan dan pewarta Kabar Keselamatan dari Allah dengan menghadirkan kedamaian, kerukunan, persaudaraan dan cinta kasih. Sama seperti yang dilakukan oleh Ezra dan Nehemia bagi bangsa Israel yang baru pulang dari pembuangan di Babel. Mereka menguatkan dan meneguhkan hati orang-orang Israel, agar jangan bersusah hati, tetapi bersukacita karena Tuhan, sebab sukacita karena Tuhanlah Pelindung. Tuhan menjadikan hari ini adalah kudus bagi-Nya, karena keselamatan-Nya nyata bagi bangsa Israel. Apa yang dilakukan oleh Ezra dan Nehemia ini adalah contoh nyata bagi setiap pelayan dan pewarta, yang diutus untuk hadir dan memberikan ketenangan, kedamaian, keteduhan, kekuatan bagi umat yang sedang dalam situasi sulit dan tekanan hidup.
Santo Hieronimus yang peringatannya kita rayakan hari ini adalah seorang Imam dan Pujangga Gereja yang cinta kasihnya kepada Allah dan Putra-Nya, Yesus Kristus sangatlah luar biasa istimewa. Ketekunannya dalam doa dan kepekaan terhadap bimbingan Roh Kudus, memberi dia kemampuan untuk mengenal dan memahami apa yang menjadi kehendak Tuhan melalui Sabda-Nya. Ungkapannya yang khas: “tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus” menunjukan betapa berharganya Kitab Suci yang menjadi sarana mengenal Kristus lebih dalam dan pengenalan itu memberi daya dorong yang kuat untuk memberikan kesaksian tentang Kristus kepada orang lain.
Hari ini kita menutup bulan Kitab Suci Nasional tahun 2021, itu tidak berarti kita berhenti membaca dan merenungkan Kitab Suci. Kitab Suci akan terus kita renungkan dan tetap menjadi jawaban sempurna atas persoalan hidup kita. Marilah kita mencintai Kitab Suci, mencintai doa dan Ekaristi, agar hidup kita terus dibaharui, disempurnakan. Yesus Sahabat Seperjalanan Kita, Kitab Suci Pedoman Perjalanan Kita. Amin.
***Editor : Okto Klau
Trending
- SMPK Santo Yoseph Noemuti Terima Sosialisasi dan Edukasi Gizi
- Cinta Panggilan di Tanah Malaka, Komisi Panggilan Gelar Aksi Panggilan di Paroki Kaputu
- Umat Paroki Mena Gelar Latihan Produksi Abon Ikan
- Siswa Seminari Lalian Lakukan Aksi Panggilan di Paroki Mena
- Siswa Seminari Lalian Ikuti Ret-ret Tahunan, Perkuat Kesadaran Panggilan sebagai Calon Imam
- 62 Siswa Kelas XII Seminari Lalian Ikuti Ujian Sekolah
- Seminari Lalian Perluas Kerja Sama Mading Bahasa Inggris dengan Tiga Sekolah di Atambua
- Aksi Panggilan di Mena, Siswa Seminari Tampil Memukau di Malam Kreasi
