Bacaan I: Kid 3:1-4a
Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2.3-4.5-6.8-9
Bacaan Injil: Yoh 20:1.11-18
Kedekatan dengan sosok yang dicintai sering kali menumbuhkan kerinduan untuk selalu bersama. Apalagi ketika yang dicintai pergi tak kunjung pulang. Rasa rindu pun seakan makin menyesakkan dada.
Lukisan indah tentang kerinduan dan keinginan untuk selalu bersama terdapat dalam Kidung Agung. “Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku hendak bangun dan berkeliling di kota; di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku ditemui peronda-peronda kota. ‘Apakah kamu melihat jantung hatiku?’ Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku; kupegang dan tak kulepaskan dia, sampai kubawa dia ke rumah ibuku, ke kamar orang yang melahirkan aku. (Kid 3:1-4).
Maria Magdalena adalah sosok wanita yang memiliki kedekatan dengan Yesus. Dia sungguh mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati. Dia sangat memperhatikan-Nya, baik ketika Ia masih hidup maupun sesudah wafat.
Cinta dan perhatian Maria Magdalena itu membuahkan anugerah istimewa. Dialah yang pertama kali mendapati makam kosong. Dia pula yang mendapat anugerah penampakan pertama kali.
Dalam penampakan itu, Yesus meminta agar Maria Magdalena mengarahkan cinta kasihnya ke kesaksian kepada murid-murid yang lain. “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” (Yoh 20:17).
Hal itu sesungguhnya menegaskan bahwa kedekatan dengan Yesus secara personal mesti diarahkan dalam cinta kepada sesama. Kita mesti mengalirkan cinta kepada semua orang sebagai bentuk kesaksian. Kita menebarkan kebaikan sebagai perwujudan cinta kepada Yesus. Kita mewartakan kasih Allah. Iman sejatinya tidak tertutup. Iman harus mengarah kepada banyak orang lain dalam tindakan nyata.
Marilah belajar dari iman Maria Magdalena. Bangunkanlah kedekatan secara personal dengan Yesus. Jalinlah relasi intim dengan-Nya. Pupuklah selalu kerinduan pada-Nya. Sehingga hati dan jiwa kita bersatu dan bertumbuh dalam kerinduan untuk selalu dekat dengan-Nya.
Kita juga mesti menyadari bahwa kasih kepada Yesus harus diwarnai dengan keakraban dan kasih kepada sesama dan dunia. Kita mewartakan persekutuan kasih kepada sesama dan memberi kesaksian iman itu dengan perbuatan-perbuatan baik.
Sekecil apapun tindakan baik pasti akan memancarkan kasih Allah.
Tuhan memberkati dan Ave Maria!
Rm. Frans katino, Pr
Trending
- Kecerdasan Manusiawi dan Kecerdasan Buatan menurut Ensiklik Magnifica Humanitas oleh Paus Leo XIV
- Ribuan Umat Paroki Seon Sambut Kedatangan Sr. Maria Alfonsa SJMJ dalam Rangka Misa Syukur Kaul Kekal
- Temu Persaudaraan se-Dekenat Malaka, Deken Malaka Ajak para Imam Teladani Hati Santo Yohanes Maria Vianney
- Konkretisasi Pendidikan Plus dan Kurikulum Berbasis Cinta, SMAK Santa Filomena Mena Siapkan 76 Bedeng untuk Tanam Lombok
- Pancasila sebagai Dasar Etika Cinta bagi Kurikulum Berbasis Cinta
- Sosialisasi BKSN di Dekenat Mena, Peserta Diajak Mengenal Yesus sebagai Guru yang Penuh Kuasa
- Iman Lahir dari Pendengaran, Tatapan Ekaristis Meneguhkannya
- Tutup Jumpa Orang Muda se-Nusra, Ketua Komkep KWI Ajak OMK Jangan Kehilangan Arah
