
Kita ini citra Allah, Imago Dei. Manusia mampu membangun relasi dengan Allah. Lewat relasi itu, kita akan semakin mampu untuk bertumbuh. Kita memiliki kemampuan untuk membedakan yang benar dan salah. Selain itu, kita juga memiliki “rasa takut akan Allah” sehingga kita mampu bertumbuh di dalam keutamaan. Maka kalau kita menolak kebenaran, maka hal itu bukan datang dari Allah melainkan dari iblis(1 Kor 2:1-5).
Yesus dalam naungan Roh datang ke Bait Allah di Nazaret dan mewartakan kabar sukacita. “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin dan Ia telah mengutus Aku…!” (Luk 4:16-30).
Dengan membacakan nubuat nabi Yesaya, yakni nubuat akan datangnya Mesias, Penyelamat Israel, Yesus memproklamirkan bahwa Ia kini telah datang, bahkan kini hadir di tengah mereka. Tetapi mereka menolak karena lebih melihat sudut manusiawi Yesus yang berasal dari keluarga yang mereka kenal dan tidak melihat sudut ke-Ilahi-an Yesus sebagai Putra Allah. Agar mereka dapat percaya, mere
ka menuntut bukti atas kehebatan kuasa Yesus. Dan Yesus tidak memenuhi permintaan mereka karena mukjizat itu bukan untuk dipamerkan atau untuk mencari pembenaran diri. Mukjizat itu menjadi nyata karena iman.
Marilah kita membangun kepercayaan kepada Allah, yang walaupun tidak kita lihat, namun sungguh hadir dan nyata di dalam pengalaman hidup harian kita.
Ya Allah Tuhan kami, semoga dengan iman kami mampu mengimani kehadiran-Mu lewat hal yang sederhana tetapi membawa sukacita dan kehidupan. Amin.
Selamat pagi dan selamat hari baru. Dalam Yesus kita bersaudara. Tuhan memberkati.
Salam Kasih dan Doa.
Romo Eman Kiik Mau Pr
Editor: Okto Klau
