Merawat tumbuhan yang hidup merupakan ekspresi sadar; menegaskan bahwa Allah sumber hidup; Allah hadir, dan Allah-lah yang memberi pertumbuhan.
Setiap karya perawatan adalah ungkapan syukur insan beriman kepada Allah bahwa Allah sumber kehidupan, tetap setia mengaruniakan kehidupan. Paulus menanam, Apolos menyiram dan Allah-lah yang memberi pertumbuhan.
Permenungan ini telah dimulai secara mendalam oleh Santo Fransiskus Asisi, Pelindung ekologis, yang melihat segala ciptaan sebagai saudara dan saudari karena memiliki kodrat keterciptaan yang sama yakni dari Allah dan oleh Allah.
Permenungan ekologis ini, lebih mendalam direfleksikan oleh Bapa Suci, Paus Fransiskus dalam Ensikik Laudato Si, yang membicarakan tentang kepedulian merawat alam semesta sebagai wujud pemuliaan akan Allah.
Merawat alam tidak sekedar menghargai mereka, tetapi merawat alam sama seperti merawat diri karena kodrat keterciptaan yang sama, yang datang dari Allah.
Lantas kita bertanya; bagaimana caranya merawat alam?
Satunya-satunya cara untuk merawat alam adalah dengan bekerja. Pekerjaan yang mana? Yang pasti, pekerjaan itu bukanlah eksploitasi alam; bukanlah memporak-porandakan alam.
Untuk setiap pekerjaan yang menimbulkan dosa, karena merusak alam, dosa ini dinamakan dosa ekologis.
Orang-orang yang berdosa secara ekologis, baginya pintu pertobatan disediakan. Pintu pertobatan itu, dinamakan pertobatan ekologis. Sikap nyata dari pertobatan ekologis adalah melakukan pekerjaan ekologis, secara produktif.
Dengan melakukan pekerjaan produktif, seorang pekerja menunjukkan ciri khas dirinya sebagai co-creator Allah, yang turut memperindah dunia ciptaan ini, dengan keteraturan dan keindahan. Yang namaNya Allah, Ia teratur dan indah.
Mana tindak nyata dari pekerjaan produktif?
Gambar di atas; tampak seorang pastor muda, Rm. Zebedeus Nahas, Pr, salah satu Pastor yang bertugas di Paroki Santa Filomena Mena, Keuskupan Atambua, Kabupaten TTU, Provinsi NTT sedang menyiram tanaman sayuran tomat. Aksi ini selalu dilakukan pagi sore. Jumlah pohon, mencapai ratusan pohon. Selain tomat, ada juga lombok.
Kenyataan tergambar seperti di atas, itulah yang Saya maksudkan sebagai kerja produktif. Mengapa produktif? Ada dua poin, yang pertama, tanah dapat ‘bernapas” karena dengan gembur, pori-pori dapat terbuka. Terbukanya pori-pori tanah, dapat memperlancar aliran air segar demi tumbuh suburnya tanaman.
Inilah kiranya, yang saya maksudkan sebagai produktif, bahwa pertama-tama sebelum memperoleh hasil yang produktif, proses dan cara bekerja tanpa merusak merupakan sebuah sikap produktif.
Penulis : Rm. Yudel Neno, Pr (Pastor Pembantu Paroki Santa Filomena Mena)
Editor : Okto Klau
