Close Menu
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • DOKUMEN GEREJA
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Peserta Diklat Kesekretariatan Kembali Bersemangat lewat Sesi Ice Breaking di Emaus
  • Bekali Sekretaris Paroki Se-Keuskupan Atambua Keterampilan Menulis Berita, Ini Kata Romo Yudel Neno
  • Sekretaris Paroki se-Keuskupan Atambua Antusias Ikuti Diklat Kesekretariatan
  • Usai Panen Jagung, SMAK Santa Filomena Mena Siapkan Lahan untuk Tanam Lombok
  • Animasi di Dekenat Mena, Animator-Animatris Diajak Jadi Orang Tua Kedua
  • Uskup Atambua Pimpin Misa Pembaharuan Janji Imamat
  • Uskup Atambua Tegaskan Kedalaman Kurban Kristus dan Panggilan Imam sebagai Sacerdos-Victima
  • Ekaristi Hari Praeses di Lalian Teguhkan Kebersamaan sebagai Jalan Pembinaan
Facebook Instagram
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • DOKUMEN GEREJA
Login
Keuskupanatambua.orgKeuskupanatambua.org
Home»Opini»Rabu Abu : Tanda Pertobatan Bukan Halusinasi Pujian
Opini

Rabu Abu : Tanda Pertobatan Bukan Halusinasi Pujian

Komsos Keuskupan AtambuaBy Komsos Keuskupan AtambuaMarch 6, 2025No Comments113 Views
Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Reddit Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

KeuskupanAtambua.org – OPINI – Rabu Abu: Tanda Pertobatan, Bukan Halusinasi Pujian – oleh Rm. Luis Diaz, Pr – Moderator OMK Paroki Baptista Besikama

Halusinasi pujian adalah istilah yang bisa merujuk pada kondisi di mana seseorang terbuai oleh pujian atau pengakuan dari orang lain hingga kehilangan kesadaran akan realitas sebenarnya. Dalam konteks religius dan spiritual, halusinasi pujian bisa diartikan sebagai sikap di mana seseorang melakukan perbuatan baik, berdoa, berpuasa, atau beramal bukan karena ketulusan hati, tetapi demi mendapatkan pengakuan, sanjungan, atau pujian dari orang lain.

Yesus dalam Matius 6:1-6,16-18 memperingatkan tentang bahaya ini, yaitu ketika tindakan rohani dilakukan demi citra diri, bukan sebagai bentuk hubungan yang murni dengan Tuhan. Orang yang terjebak dalam halusinasi pujian bisa merasa dirinya lebih saleh atau lebih baik dibandingkan orang lain hanya karena mendapat pengakuan dari lingkungan sekitar, padahal motivasi spiritualnya tidak benar-benar berasal dari hati yang tulus.

Maka, Rabu Abu mengajak kita untuk bertobat dengan sikap rendah hati, menyadari kefanaan diri, dan berusaha semakin dekat dengan Tuhan, bukan sekadar menjalankan ritual demi penghormatan atau pujian dari orang lain.

Hari Rabu Abu menandai awal Masa Prapaskah, sebuah waktu yang diisi dengan pertobatan, refleksi diri, dan pengendalian diri. Dalam Injil Matius 6:1-6,16-18, Yesus Kristus, Sang Guru Ilahi, menegaskan bahwa tindakan rohani—puasa, doa, dan amal—harus dilakukan dengan hati yang tulus, bukan untuk mencari pengakuan atau pujian dari orang lain.

Yesus memperingatkan kita agar tidak terjebak dalam sikap munafik yang menjalankan praktik keagamaan hanya demi dilihat dan dihormati orang lain. Amal, doa, dan puasa bukanlah sarana pencitraan diri, melainkan wujud ketulusan hati dalam relasi kita dengan Tuhan. Motivasi utama kita haruslah kasih kepada Tuhan dan kesadaran akan kebutuhan kita akan pertobatan, bukan sekadar pengakuan sosial atau penghormatan dari sesama.

Tanda abu yang diterima di dahi pada Hari Rabu Abu mengingatkan kita bahwa kita adalah debu dan akan kembali menjadi debu. Ini bukan sekadar ritual atau tradisi, tetapi simbol nyata dari kerendahan hati dan kesediaan untuk bertobat. Abu bukanlah mahkota kehormatan, melainkan tanda kesadaran akan kefanaan manusia dan kebutuhan akan rahmat Tuhan yang membangkitkan kita dari dosa menuju kehidupan baru.

Yesus mengajarkan bahwa puasa sejati bukan hanya menahan diri dari makanan, tetapi juga menahan diri dari segala sesuatu yang menghalangi kita untuk semakin dekat dengan Tuhan. Puasa yang benar bukanlah tentang menampilkan penderitaan secara berlebihan, tetapi tentang transformasi batin yang membawa kita pada pertobatan sejati. Demikian pula, doa dan amal harus dilakukan dalam kesunyian hati yang dipenuhi kasih, bukan sebagai pertunjukan religius yang mengundang sanjungan.

Masa Prapaskah adalah kesempatan untuk memperbarui hidup kita. Ini adalah waktu untuk lebih banyak berdoa, lebih banyak memberi, dan lebih banyak mengasihi tanpa pamrih. Dengan demikian, kita tidak hanya menjalankan kewajiban agama, tetapi benar-benar membuka hati untuk kasih dan rahmat Tuhan.

Semoga melalui pertobatan yang tulus, kita semakin dekat dengan Tuhan dan pada akhirnya mengalami kebangkitan bersama-Nya dalam kehidupan yang kekal. Amin.

Penulis: Rm. Luiz Diaz, Pr
Editor: Rm. Yudel Neno, Pr

Share. Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BERITA TERKAIT

Kecakapan Discernment Imamat di Tengah Viralitas dan Popularitas Publikasi Media Sosial

January 28, 2026

Ekologi Media dan Pentingnya Kesadaran Subjektif

December 12, 2025

ELEMEN ESTETIKA DAN PENJIWAAN DALAM RAGAM TRADISI MUSIK – Catatan ke-2 untuk Konser Musik Trans Timor Barat

November 12, 2025

MUSIK SEBAGAI KATHARSIS – PENGALAMAN ESTETIS DALAM KONSER Calpestando La Terra – Sostenendo il Cielo

November 11, 2025

July 4, 2025

Rukun Bersama Saudara: Jalan Menuju Berkat dan Martabat dalam Dialog Antaragama

July 2, 2025

Comments are closed.

BERITA TERBARU

Peserta Diklat Kesekretariatan Kembali Bersemangat lewat Sesi Ice Breaking di Emaus

April 15, 2026

Bekali Sekretaris Paroki Se-Keuskupan Atambua Keterampilan Menulis Berita, Ini Kata Romo Yudel Neno

April 15, 2026

Sekretaris Paroki se-Keuskupan Atambua Antusias Ikuti Diklat Kesekretariatan

April 15, 2026

Usai Panen Jagung, SMAK Santa Filomena Mena Siapkan Lahan untuk Tanam Lombok

April 11, 2026

Animasi di Dekenat Mena, Animator-Animatris Diajak Jadi Orang Tua Kedua

April 8, 2026

Uskup Atambua Pimpin Misa Pembaharuan Janji Imamat

March 31, 2026
KALENDER LITURGI

Tentang Kami
Tentang Kami

Keuskupanatambua.org merupakan website resmi Keuskupan Atambua yang menyajikan update informasi seputar Keuskupan Atambua dan paroki-paroki di wilayah keuskupan tersebut.

Alamat

Alamat:
Jl. Nela Raya No. 17, Lalian Tolu, Atambua 85702, Timor – Nusa Tenggara Timur.

Media Sosial
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • TikTok
© 2026 Keuskupanatambua.org. Designed by Tim Keuskupan Atambua.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?