Salib sumber Sukacita. Sumber: keluargakreatif.com


Hari ini Gereja merayakan Pesta Salib Suci. Awalnya Pesta Salib Suci dimaksudkan untuk memperingati penemuan Salib Yesus oleh Santa Helena, ibu dari Kaisar Konstantinus, pada 18 Agustus 320 dan pemberkatan sebuah basilika di lokasi Makam Yesus di Yerusalem pada 14 September 335. Sejak saat itu, perayaan Salib Suci sudah menjadi kegiatan rutin di Gereja Timur. Baru pada abad ke-7, perayaan ini kemudian menjadi bagian dari Liturgi Gereja Barat.

Bacaan Pertama, Bil 21:4-9, mengisahkan peristiwa ketika orang Israel meninggalkan Gunung Hor dan berjalan ke arah Laut Teberau tanpa melalui Edom. Artinya, mereka harus mengambil jalan memutar yang lebih jauh. Hal inilah yang rupanya membuat mereka bersungut-sungut karena mereka kelelahan, kehausan dan bisa mengalami kematian karena ganasnya padang gurun.

Dalam kondisi seperti ini, mereka menyalahkan Musa, karena dialah yang mengajak mereka keluar dari Mesir. Karena orang Israel terus mengeluh dan menggerutu, maka Tuhan menggunakan ular tedung untuk menghukum mereka.

“Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang, maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya akan tetap hidup.” Bil 21:8.

Bacaan Injil menyatakan rencana Allah yang menyelamatkan manusia. “Dan seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan memperoleh kehidupan yang kekal.” Yoh 3:14-15. Semua dilakukan oleh Tuhan secara total karena kasih Tuhan yang mendalam bagi umat manusia.

Dalam suatu perayaan Salib Suci, Paus Fransiskus dengan sangat indah mengatakan, “Allah mengambil Jalan Salib ini semua karena kasih. Tidak ada penjelasan lain. Semua karena Kasih.

Hari ini kita melihat pada Salib: Kisah Allah dan Kisah Manusia. Kita pandang Salib ini, di mana kalian dapat mencoba madu dari getah itu, madu pahit itu, rasa pahit dari manisnya pengorbanan Yesus.

Kita diajak untuk merasa secara mendalam keselamatan dari misteri Salib itu. Misteri Salib hanya akan bisa dipahami dengan berlutut dalam doa tetapi juga dengan air mata. Air matalah yang mendekatkan kita dengan misteri salib ini. Tanpa meneteskan air mata yang tulus, kita tidak pernah dapat memahami misteri salib secara mendalam.”

Saudara-saudari terkasih. Ada 3 makna perayaan Salib Suci untuk kita renungkan bersama pada hari ini:

Pertama : Keselamatan

Dulu Musa meninggikan ular di padang gurun, umat Israel yang memandang ular itu diselamatkan dari pagutan ular tembaga. Kini, ketika Yesus ditinggikan lewat kayu Salib, kita juga diselamatkan dari perbudakan dosa.

Kedua: Kedewasaan

Salib yang kita jumpai dan alami dalam hidup kita setiap hari, mendewasakan iman kita. Kita diajak untuk lebih berani mengambil pemurnian dan pengosongan diri bahwa setiap Salib yang kita pikul, membuat kita lebih mengenakan keilahian Kristus dan menanggalkan kesombongan kita. Kita pun menjadi lebih dewasa dan lebih berbela rasa dalam setiap kata, sikap dan tindakan kita yang nyata dalam hidup setiap hari.

Ketiga: Penghiburan

Dalam Gereja dan rumah kita, ada kayu Salib Kristus yang digantungkan. Mari kita gantungkan juga iman, harapan dan kasih kita serta pergumulan hidup kita kepada Kristus yang telah rela “tergantung” untuk kita. Inilah penghiburan iman kita bahwa Dia yang tersalib menjadi energi atau sumber kekuatan kita dalam menanggung beban hidup kita yang terus datang silih berganti.

Selamat pagi dan selamat hari baru. Selamat merayakan Pesta Salib Suci. Dalam Yesus kita bersaudara. Tuhan memberkati.
Salam Kasih dan Doa,
Romo Eman Kiik Mau, Pr

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here