Santo Yohanes Krisostomus. Sumber: katakombe.org


Hari ini Gereja memperingati Santo Yohanes Krisostomus, Uskup dan Pujangga Gereja. Ia dijuluki sebagai si mulut emas, karena dedikasi dan pelayanannya yang dilandaskan pada kepiawaian memantapkan orang dalam pengajaran Katolik.

Kekuatan Sabda Allah dibingkai dengan kedalaman hatinya yang menghidupi sabda sehingga membawa sebanyak mungkin pengenalan akan Allah dan mengalami pertobatan. Kedalaman akan pengenalan Sabda Tuhan dan perwujudan yang baik, membuat kita dapat menuntun orang lain pada kebaikan, bukan seperti orang buta menuntun orang buta, sehingga tidak sampai pada tujuannya.

Semangat dasar Santo Yohanes Krisostomus dalam kepiawaian merangkai kata dan mewujudkan tindakan dalam semangat tulus dapat menjadi jembatan keterlibatan dan kehadiran nyata di tengah masyarakat. Sekecil apa pun keterlibatan dan kontribusi kita bagi pembangunan dunia atau masyarakat adalah secercah kasih yang meneguhkan hidup kita.

Mungkin banyak dari antara kita sudah merasa cukup akan berbagai hal. Kita merasa cukup berdoa saat makan, saat bangun di pagi hari, saat akan beranjak tidur, cukup berdoa rosario dan cukup hanya datang ke gereja. Kita merasa cukup seperti itu supaya aman dalam banyak hal.

Marilah kita belajar dari Santo Yohanes Krisostomus, melalui perkataan dan perbuatan kita, kita bisa menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Jangan pernah takut menghadapi segala tantangan dan rintangan sebagai saksi Kristus. Tuhan selalu menyertaj kita di mana pun kita berada. Just do it.

Santa Teresa dari Kalkutta pernah berkata, “Tidak semua dari kita dapat melakukan hal-hal besar, tetapi kita dapat melakukan hal-hal yang kecil dengan cinta yang besar.”

Kita dapat melakukan hal-hal kecil dan sederhana, namun dengan cinta yang besar, peka dan mudah tergerak oleh belas kasihan.

Hati Yesus tergerak oleh belas kasihan. Hati Allah seluas samudera. Ia begitu mudah tersentuh dan berbela rasa dengan kita. Luk 7:11-17.

“Jangan menangis!”

Perkataan Yesus ini menjadi informasi bahwa janda itu menangis karena kesedihan dan duka yang dialaminya. Hati yang tergerak menimbulkan aksi. Empati dan bela rasa bermuara pada tindakan nyata.

Tuhan, jadikanlah aku pembawa pembawa cinta kasih-Mu. Amin.

Selamat pagi dan selamat hari baru. Dalam Yesus kita bersaudara. Tuhan memberkati.
Salam Kasih dan Doa,
Romo Eman Kiik Mau, Pr

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here