Sumber Gambar : beritasimalungun.blogspot.com
Lukas 10:25, 29:”Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”
Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” Syukur ada dua pertanyaan penting dari ahli taurat kepada Yesus dan karena itu kita mendapatkan jawaban Yesus yang menjadi pedoman bagi kita.
Hidup abadi tidak didapat dengan informasi atau ilmu tapi lewat pengalaman pribadi akan Allah. Sesama bukan dibatasi oleh kedekatan tapi kemauan untuk meninggalkan zona nyaman dan terbuka untuk kebutuhan orang. Hal seperti ini menuntut kita untuk memiliki sikap lintas budaya, agama, suku dan tingkat ekonomi serta siap menyembuhkan yang terluka dan terpecahkan. Sesama kita yang dijelaskan Yesus adalah saat di mana seseorang ada dalam situasi yang membutuhkan bantuan kita. Apakah kita sudah menjadi sesama yang baik seperti orang Samaria yang baik hati? Ataukah kebaikan kita selalu dalam perhitungan, saya beri supaya nanti dia beri untuk saya?
Mari kita bertobat kalau mau mendapat hidup kekal karena apa yang sudah kita lakukan untuk sesama kita yang miskin dan terlantar akan menjadi kesaksian yang kuat di depan pengadilan kita di akhirat. St. Fransiskus Asisi menjadi teladan bagi kita untuk menjadi sesama bagi kaum miskin dan juga menjadi teladan bagaimana kita melestarikan alam ciptaan Tuhan.
Kita berdoa:” Tuhan Yesus semoga aku dapat menjadi sesama bagi yang menderita dan terlantar. Semoga kami pun selalu meneladani St. Fransiskus ketika kami berhadapan dengan kaum miskin dan juga ketika kami bersentuhan dengan alam ciptaan ini. Amin.”
Salam dan doa.
Pater Vincentius Wun, SVD
Editor : Okto Klau
