
HAUMENI — KeuskupanAtambua.org – Sebanyak 714 umat Katolik Paroki Kristus Raja Haumeni menerima Sakramen Krisma atau Sakramen Penguatan dalam perayaan Ekaristi yang dipimpin Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr, di pelataran Gereja Paroki Kristus Raja Haumeni, Sabtu (24/10/2026). Perayaan tersebut menjadi puncak rangkaian pembinaan iman yang bertujuan mempersiapkan para penerima sakramen untuk semakin dewasa dalam iman dan bertanggung jawab sebagai saksi Kristus di tengah kehidupan masyarakat.

Dari keseluruhan penerima Sakramen Krisma, sebanyak 388 orang merupakan perempuan dan 326 orang laki-laki. Perayaan berlangsung khidmat dan dihadiri ribuan umat, termasuk orang tua, wali krisma, serta tokoh masyarakat yang turut menyaksikan penerimaan sakramen tersebut.

Sebelum menerima Sakramen Krisma, seluruh peserta telah mengikuti pembinaan iman selama dua hari, yakni pada 21–22 Oktober 2026. Pembinaan tersebut dilaksanakan oleh Tim Pusat Pastoral (Puspas) untuk memperdalam pemahaman peserta mengenai ajaran iman Katolik, sakramen-sakramen inisiasi, karya Roh Kudus, serta tanggung jawab moral umat beriman dalam kehidupan sehari-hari.

Selain pembinaan oleh Tim Puspas, para peserta juga memperoleh pengajaran langsung dari Uskup Atambua pada Kamis (22/10/2026). Dalam pengajaran tersebut, Uskup memberikan perhatian khusus terhadap makna teologis dan keluhuran martabat Sakramen Krisma sebagai salah satu sakramen inisiasi dalam Gereja Katolik.
Uskup menekankan bahwa penerimaan Sakramen Krisma tidak boleh dipahami sebatas kegiatan seremonial, pemenuhan tradisi keagamaan, ataupun persyaratan administratif dalam kehidupan menggereja. Sakramen Penguatan merupakan anugerah rahmat Allah yang meneguhkan hubungan umat beriman dengan Kristus dan memperkuat mereka melalui karunia Roh Kudus.
Dalam ajaran Gereja Katolik, Sakramen Krisma memberikan meterai rohani yang tidak terhapuskan. Melalui sakramen ini, umat beriman semakin dipersatukan dengan Gereja, diperkaya dengan kekuatan Roh Kudus, serta dipanggil untuk memberikan kesaksian iman secara lebih bertanggung jawab.
Karena itu, Uskup mengingatkan pentingnya menjaga keluhuran martabat sakramen melalui kehidupan yang mencerminkan nilai-nilai Injil. Penerimaan Krisma harus menjadi titik tolak pembaruan hidup yang ditandai dengan kesetiaan kepada Kristus, kedewasaan moral, integritas pribadi, dan keberanian memperjuangkan kebenaran.
Penegasan tersebut sekaligus mengingatkan para penerima Krisma bahwa kedewasaan iman tidak semata-mata ditentukan oleh usia ataupun pengetahuan mengenai ajaran agama. Kedewasaan iman terutama diwujudkan melalui kesanggupan menghayati nilai-nilai Kristiani dalam keluarga, lingkungan Gereja, dan kehidupan sosial.
Salah satu aspek yang turut mendapat perhatian dalam persiapan penerimaan Sakramen Krisma adalah penggunaan nama pelindung. Sejumlah peserta memilih nama Dominikus bagi laki-laki dan Dominika bagi perempuan.
Secara etimologis, nama Dominikus berasal dari bahasa Latin Dominicus, yang berarti milik Tuhan atau yang berkaitan dengan Tuhan. Nama tersebut juga mengingatkan pada Santo Dominikus de Guzmán, pendiri Ordo Pewarta, yang dikenal karena semangat pewartaan, kecintaan terhadap kebenaran, dan pengabdian kepada Gereja.
Pemilihan nama pelindung memiliki makna spiritual karena mengingatkan para penerima Krisma akan panggilan untuk meneladani kehidupan iman para kudus. Nama tersebut bukan sekadar identitas tambahan, melainkan pengingat akan tanggung jawab untuk membangun kehidupan yang semakin berpusat pada Kristus.
Dalam perayaan Ekaristi pada Sabtu (24/10/2026), para penerima Krisma mengikuti seluruh rangkaian liturgi dengan khidmat. Mereka menerima pengurapan minyak krisma pada dahi sebagai tanda sakramental anugerah Roh Kudus, dalam rangkaian ritus yang juga mencakup doa penumpangan tangan.
Penerimaan Sakramen Krisma tersebut menandai tahap penting dalam perjalanan iman para peserta. Melalui sakramen ini, mereka diteguhkan untuk mengambil bagian secara lebih aktif dalam kehidupan dan perutusan Gereja.
Peneguhan iman tersebut juga membawa konsekuensi moral dan sosial. Para penerima Krisma diharapkan mampu memperlihatkan buah-buah Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana diajarkan Rasul Paulus, yakni kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.
Nilai-nilai tersebut menjadi landasan bagi umat beriman dalam membangun hubungan yang harmonis dengan sesama, mengembangkan tanggung jawab pribadi, serta menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan sikap yang berakar pada iman Kristiani.
Dalam konteks kehidupan keluarga, para penerima Krisma diharapkan semakin menghormati orang tua, membangun komunikasi yang baik, dan menunjukkan kepedulian terhadap sesama anggota keluarga. Sementara dalam kehidupan masyarakat, mereka dipanggil untuk menjadi pribadi yang menjunjung tinggi kejujuran, solidaritas, keadilan, dan perdamaian.
Penerimaan Sakramen Krisma juga menjadi momentum penting bagi Paroki Kristus Raja Haumeni untuk memperkuat pembinaan iman umat secara berkelanjutan. Pembinaan tidak berhenti pada penerimaan sakramen, tetapi perlu diteruskan melalui pendampingan pastoral, keterlibatan dalam kegiatan menggereja, dan pengembangan tanggung jawab sosial.
Dalam hal ini, keluarga, wali krisma, dan komunitas basis gerejawi memiliki peran penting dalam mendampingi para penerima sakramen agar rahmat penguatan yang telah diterima sungguh membuahkan perubahan dalam kehidupan mereka.
Keterlibatan orang tua dan wali krisma juga menggarisbawahi bahwa pertumbuhan iman merupakan tanggung jawab bersama. Pendidikan iman yang berlangsung dalam keluarga perlu mendapat dukungan dari lingkungan Gereja agar para penerima Krisma mampu mengembangkan kehidupan rohani yang matang dan konsisten.
Perayaan Sakramen Krisma di Paroki Kristus Raja Haumeni tersebut berlangsung dalam suasana sukacita dan kebersamaan. Kehadiran ribuan umat mencerminkan dukungan komunitas terhadap perjalanan iman 714 penerima sakramen yang kini dipanggil untuk semakin aktif mengambil bagian dalam kehidupan Gereja.
Rangkaian perayaan diakhiri dengan ungkapan syukur dan ramah tamah bersama. Momentum tersebut sekaligus mempertegas komitmen umat Paroki Kristus Raja Haumeni untuk terus mengembangkan kehidupan beriman yang berakar pada nilai-nilai Injil dan selaras dengan kekayaan budaya masyarakat setempat.
Melalui penerimaan Sakramen Krisma, para penerima sakramen diharapkan tidak hanya bertumbuh dalam pemahaman ajaran iman, tetapi juga semakin menyadari tanggung jawab mereka sebagai anggota Gereja yang dipanggil untuk menghadirkan kasih, kebenaran, dan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, penerimaan Sakramen Penguatan menjadi lebih dari sekadar perayaan liturgis. Peristiwa tersebut merupakan momentum peneguhan identitas dan tanggung jawab sebagai murid Kristus, sekaligus panggilan untuk mewujudkan kedewasaan iman melalui kesaksian hidup yang nyata di tengah Gereja dan masyarakat.
oleh Rm. Sixtus – Editor Yudel Neno

