Rangkaian kegiatan Rakor ini akan ditutup dengan Perayaan Ekaristi bersama pada Minggu, 27 Juli 2025, sebagai momen perutusan dan penyegaran kembali semangat pelayanan bagi Orang Muda Katolik (OMK) di tengah tantangan era digital.
Browsing: Berita Keuskupan Atambua
Sebagai penanda pembukaan kegiatan, akan diadakan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Vikjen Keuskupan Atambua, Pater Vincent Wun, SVD, pada 28 Juli 2025. Sementara itu, puncak dan penutupan pameran akan berlangsung pada 1 Agustus 2025, ditandai dengan Perayaan Ekaristi yang akan dipimpin langsung oleh Uskup Atambua.
Seluruh proses ini telah dipayungi oleh surat panitia yang sebelumnya menetapkan tanggal 16 Juli 2025 sebagai batas akhir pendaftaran. Hari ini, 18 Juli, menjadi titik temu antara persiapan panjang dan langkah awal menuju pelaksanaan. Suasana Technical Meeting pun berlangsung serius namun penuh semangat.
Dalam catatan yang disampaikan oleh Sr. Klarentin, FSGM selaku Sekretaris Panitia, melanjutkan penegasan Bapak Uskup Atambua; ditegaskan pentingnya memperhatikan penyelenggaraan Ekaristi harian dan malam budaya selama rangkaian kegiatan, serta finalnya rundown acara pada waktu awal.
Pada kesempatan yang sama, Uskup Domi juga menyampaikan pesan penting dalam konteks sosial dan pastoral. Ia menyebut perayaan 50 tahun sebagai tahun pembebasan dari segala bentuk kekerasan, mabuk-mabukan, dan kerusakan alam termasuk pembakaran hutan. “Kita lahirkan kembali semangat ekologi dan panen keutamaan, baik teologal maupun noetis, yang menopang masa depan pendidikan kita,” kata Uskup.
Keuskupanatambua.org. Emaus Pastoral Center, Dekenat Belu Utara menyelenggarakan jambore Sekami yang dimulai pada hari ini (Sabtu, 5/7/2025) hingga besok (Minggu…
Keikutsertaan utusan Keuskupan Atambua dalam forum ini menunjukkan keseriusan pastoral dan keterlibatan aktif dalam menjawab fenomena migrasi secara holistik, baik dari sisi pendampingan spiritual maupun advokasi sosial. Diharapkan, Perpas XII menjadi titik tolak bagi pembaruan strategi pastoral yang lebih menyentuh realitas umat Katolik yang hidup sebagai perantau.
Yang istimewa, penyusunan buku kecil ini dilakukan tanpa sepengetahuan Sang Yubilaris, sehingga kehadirannya menjadi kejutan yang mengharukan. Buku ini menjadi ungkapan syukur sekaligus penghargaan atas ketekunan dan kesetiaan Romo Emanuel Hane dalam menabur inspirasi iman lewat kata-kata sederhana namun penuh makna.
Dalam simpulan presentasi, Rm. Yudel Neno menekankan bahwa pastoral migran-perantau adalah panggilan untuk keluar dari zona nyaman dan menembus batas-batas sosial. Ia menegaskan bahwa hukum dibuat untuk melindungi manusia, bukan merendahkannya, dan pelayanan terhadap migran harus menjunjung tinggi nilai kemanusiaan sambil menegaskan semangat Yesus sebagai dasar pelayanan.
Keuskupanatambua.org, Couples For Christ (CFC) sebagai Komunitas Pemerhati Keluarga merupakan bagian tak terpisahkan dari Komisi Keluarga mempunyai misi: “Keluarga Menyelamatkan…
