
ATAMBUA – KeuskupanAtambua.org – Sebanyak empat lembaga pendidikan mengikuti Festival Literasi Antarsekolah yang berlangsung di SMPK Don Bosco, Atambua, Rabu (28/10/2026). Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa ini mengusung tema “Bergerak Bersama dalam Literasi Seni dan Bahasa Inggris”, dengan tujuan mengembangkan kreativitas pelajar sekaligus membangun semangat saling memotivasi, saling belajar, dan saling mengenal melalui kegiatan literasi, seni, dan bahasa Inggris.

Keempat lembaga pendidikan yang terlibat dalam festival tersebut adalah SMPK Don Bosco sebagai tuan rumah, Seminari Lalian, SMA Santa Angela, dan SMA HTM Halilulik. Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WITA ini menjadi ruang perjumpaan antarpelajar untuk menampilkan kemampuan dan kreativitas masing-masing sekolah melalui penerbitan majalah dinding (mading) serta pertunjukan seni dan musik dalam bahasa Inggris.

Penyelenggaraan festival ini memiliki makna khusus karena berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober. Momentum tersebut menjadi kesempatan bagi para pelajar untuk membangun semangat persatuan, memperkuat kebersamaan, dan mengembangkan kreativitas melalui kegiatan pendidikan yang melibatkan berbagai sekolah.

Selain memperingati Hari Sumpah Pemuda, festival ini juga menjadi bagian dari perayaan Bulan Bahasa yang mendorong para siswa untuk mengembangkan kemampuan literasi sebagai bekal dalam mengolah informasi, mengembangkan gagasan, serta mengomunikasikan pemikiran secara kreatif dan bertanggung jawab.

Dalam sambutan selamat datang, Kepala SMPK Don Bosco, Rm. Kris Falo, Pr, menekankan pentingnya membangun semangat kebersamaan antarsekolah melalui kegiatan yang memberikan ruang bagi para siswa untuk belajar dan mengembangkan kemampuan diri.

Menurutnya, peringatan Hari Sumpah Pemuda merupakan momentum yang tepat untuk menegaskan kembali bahwa persatuan tidak hanya diwujudkan melalui kesamaan identitas kebangsaan, tetapi juga melalui kesediaan untuk saling mengenal, saling menghargai, dan bekerja sama dalam mengembangkan potensi generasi muda.

Ia menilai bahwa kegiatan literasi, seni, dan bahasa Inggris merupakan sarana pendidikan yang dapat membantu para siswa mengembangkan kemampuan intelektual sekaligus membentuk karakter.
Melalui penerbitan mading, para siswa belajar membaca, menulis, berpikir, dan mengolah gagasan. Sementara melalui pentas seni dan musik, mereka memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kreativitas, keberanian, dan kemampuan berkomunikasi di hadapan publik.
Rm. Kris juga menekankan bahwa kegiatan festival tidak dimaksudkan semata-mata untuk memperlihatkan keunggulan masing-masing sekolah, tetapi terutama untuk membangun pengalaman belajar bersama. Setiap sekolah memiliki kemampuan, kreativitas, dan kekhasan yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi sekolah lain.
Karena itu, perbedaan kemampuan dan bentuk penampilan hendaknya dipandang sebagai kesempatan untuk saling melengkapi, bukan sebagai alasan untuk membangun persaingan yang tidak sehat.
Dalam konteks peringatan Sumpah Pemuda, ia mengajak para pelajar untuk memahami bahwa semangat persatuan harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Keberanian untuk berjumpa, membangun persahabatan, menghargai perbedaan, dan bekerja sama merupakan bagian dari penghayatan nilai-nilai persatuan yang diwariskan oleh para pemuda Indonesia sejak 28 Oktober 1928.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi awal dari kerja sama yang lebih luas di antara sekolah-sekolah peserta, khususnya dalam mengembangkan budaya literasi, kreativitas seni, dan keterampilan berbahasa. Semangat saling memotivasi, saling belajar, dan saling mengenal diharapkan terus tumbuh sebagai bagian dari pengalaman pendidikan para siswa.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan ; Maximus Mali, dalam sambutannya menekankan pentingnya penguatan budaya literasi di kalangan generasi muda.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi menuntut para pelajar untuk memiliki kemampuan membaca, memahami, mengolah, dan menggunakan informasi secara tepat. Karena itu, literasi perlu dikembangkan sebagai keterampilan dasar yang mendukung proses pembelajaran sekaligus membentuk kemampuan berpikir kritis.
Ia menggarisbawahi bahwa literasi tidak dapat dibatasi pada kemampuan membaca buku atau menulis sebuah teks. Literasi juga berkaitan dengan kemampuan memahami informasi, menyampaikan gagasan, mengembangkan kreativitas, dan menggunakan pengetahuan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Dalam perspektif tersebut, kegiatan penerbitan mading dan pentas seni merupakan bentuk pembelajaran yang menghubungkan kemampuan berpikir dengan keterampilan berekspresi.
Kepala Dinas juga mengaitkan kegiatan festival dengan momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa. Menurutnya, bahasa memiliki peran penting dalam membangun persatuan, mengembangkan pengetahuan, dan memperluas komunikasi antarmanusia. Bahasa Indonesia perlu terus dijunjung sebagai bahasa persatuan, sementara kemampuan menguasai bahasa asing, termasuk bahasa Inggris, dapat menjadi bekal untuk memperluas wawasan dan menghadapi perkembangan dunia yang semakin terbuka.
Ia menilai penggunaan bahasa Inggris dalam pertunjukan seni dan musik sebagai salah satu pendekatan kreatif untuk mendorong para pelajar mempraktikkan kemampuan berbahasa dalam suasana yang menyenangkan. Pembelajaran bahasa tidak harus terbatas pada penguasaan tata bahasa dan kosakata, tetapi juga perlu dikembangkan melalui keberanian menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dan mengekspresikan gagasan.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas mendorong sekolah-sekolah untuk terus mengembangkan kegiatan literasi yang melibatkan partisipasi aktif para siswa. Perpustakaan sekolah, majalah dinding, komunitas membaca, kegiatan menulis, dan berbagai bentuk kreativitas seni dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kebiasaan belajar yang berkelanjutan.
Ia berharap festival tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan, tetapi menjadi bagian dari gerakan bersama untuk membangun generasi muda yang memiliki kemampuan literasi, kreativitas, karakter, serta kesiapan menghadapi tantangan masa depan.
Usai sambutan, Festival Literasi Seni dan Bahasa Inggris memasuki rangkaian pembukaan yang dipandu oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dengan didampingi para pendamping dari masing-masing sekolah peserta. Kehadiran para pendamping tersebut menjadi simbol keterlibatan bersama lembaga-lembaga pendidikan dalam mendukung pengembangan literasi di kalangan pelajar.
Tema “Bergerak Bersama dalam Literasi Seni dan Bahasa Inggris” menjadi dasar penyelenggaraan kegiatan yang menekankan pentingnya keterlibatan aktif para siswa dalam membangun budaya literasi. Melalui tema tersebut, setiap sekolah diajak untuk terus bergerak maju dan berkembang bersama dengan memanfaatkan potensi serta kemampuan yang dimiliki.
Salah satu kegiatan utama dalam festival tersebut adalah penerbitan majalah dinding oleh masing-masing sekolah. Melalui kegiatan ini, para peserta memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kreativitas dalam mengolah informasi, menyusun tulisan, dan menyajikan gagasan dalam bentuk publikasi yang menarik. Mading menjadi sarana bagi para pelajar untuk mengembangkan kemampuan berpikir, menulis, serta menyampaikan pesan kepada pembaca.
Penerbitan mading juga menjadi kesempatan untuk menumbuhkan kebiasaan membaca dan menulis di lingkungan sekolah. Para siswa didorong untuk memahami bahwa literasi merupakan keterampilan yang perlu dikembangkan melalui latihan, ketekunan, dan keberanian menghasilkan karya. Melalui hasil publikasi masing-masing sekolah, para peserta juga dapat saling mengamati dan belajar dari kreativitas yang ditampilkan.
Selain penerbitan mading, festival ini menghadirkan pentas seni dan musik yang dibawakan oleh para siswa dari keempat sekolah. Hal menarik dari kegiatan tersebut adalah penggunaan bahasa Inggris dalam berbagai penampilan seni dan musik. Dengan demikian, bahasa Inggris tidak hanya dipelajari sebagai mata pelajaran di ruang kelas, tetapi juga digunakan sebagai sarana untuk mengekspresikan bakat dan kreativitas.
Melalui penampilan tersebut, para pelajar memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris sekaligus melatih keberanian tampil di hadapan publik. Kegiatan seni dan musik juga memberikan pengalaman belajar yang berbeda karena para siswa dapat memadukan keterampilan berbahasa dengan kemampuan berekspresi secara kreatif.
Festival ini sekaligus menjadi kesempatan bagi para siswa untuk saling menghargai kemampuan dan hasil karya sesama. Perbedaan bentuk penampilan serta kreativitas masing-masing sekolah diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi yang mendorong peserta untuk terus mengembangkan potensi diri.
Meskipun berasal dari lingkungan pendidikan yang berbeda, seluruh peserta dipertemukan oleh tiga tujuan utama, yakni saling memotivasi, saling belajar, dan saling mengenal. Ketiga tujuan tersebut menjadi dasar penyelenggaraan festival yang menekankan semangat kebersamaan dan kerja sama antarpelajar.
Semangat saling memotivasi diarahkan untuk membangun keberanian dan kepercayaan diri para siswa dalam mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Sementara itu, semangat saling belajar menjadi kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru melalui karya serta penampilan sekolah lain. Adapun semangat saling mengenal diharapkan dapat mempererat hubungan persaudaraan dan membangun komunikasi yang baik di antara para pelajar.
Rangkaian kegiatan diawali dengan lagu pembuka, pengantar pembawa acara, doa bersama, dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Selanjutnya, pihak SMPK Don Bosco sebagai tuan rumah menyampaikan ucapan selamat datang, yang disusul dengan sambutan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan serta pembukaan festival.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan acara inti berupa penampilan seni dan musik dalam bahasa Inggris serta penyajian hasil karya literasi melalui majalah dinding. Masing-masing sekolah memperoleh kesempatan untuk memperlihatkan hasil persiapan, kreativitas, dan kemampuan para siswanya.
Seluruh rangkaian kegiatan dijadwalkan berlangsung selama tiga jam, mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WITA. Festival diakhiri dengan sesi foto bersama, doa penutup, dan penutupan acara.
Melalui penyelenggaraan festival tersebut, SMPK Don Bosco bersama ketiga sekolah peserta berupaya membangun kerja sama pendidikan yang menempatkan literasi, seni, dan bahasa Inggris sebagai bagian dari proses pengembangan kemampuan generasi muda. Kegiatan bersama ini juga menjadi kesempatan bagi para guru dan pendamping untuk saling berbagi pengalaman dalam mengembangkan pembelajaran yang kreatif dan partisipatif.
Festival Literasi Antarsekolah ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa, tetapi menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap literasi, seni, dan bahasa Inggris di lingkungan pendidikan.
Dengan semangat bergerak bersama, keempat sekolah diharapkan dapat terus mengembangkan kerja sama, membangun budaya belajar yang saling mendukung, serta memberikan ruang bagi para pelajar untuk bertumbuh melalui pengalaman bersama. Melalui kegiatan ini, peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa menemukan maknanya dalam tindakan nyata para pelajar untuk terus maju, belajar, berkarya, dan membangun persaudaraan antarsekolah.
oleh Rm. Kris Falo, Pr – Editor – Yudel Neno

