Dengan demikian, pertobatan bukan sekadar perubahan perilaku, tetapi perubahan paradigma. Dan di situlah Injil menjadi revolusi batin yang terus relevan sepanjang zaman.
Browsing: Refleksi Eksegetis
Puncak dari seluruh rangkaian pembangunan ini terjadi pada 15 Desember 2025, saat Gereja Santa Maria Goreti Lurasik ditahbiskan secara resmi. Penahbisan dilakukan oleh Kardinal Indonesia, Mgr. Ignatius Suharyo, bersama Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku. Peristiwa ini melengkapi seluruh proses yang dimulai sejak survei lokasi pada 19 Juli 2025 dan perobohan gereja lama pada 1 Agustus 2025. Bagi umat Lurasik, penahbisan ini bukan hanya seremoni, melainkan penggenapan dari doa, kerja keras, dan iman bersama. Segala puji syukur dipersembahkan kepada Tuhan yang Maha Baik atas karya-Nya melalui Bapak Andreas Sofiandi dan Tim Himpunan Bersatu Teguh.
KeuskupanAtambua.org – Memahami Delapan Etos Kerja CU Kasih Sejahtera Keuskupan Atambua dan Relevansinya bagi Umat Allah KA- Yudel Neno, Pr…
Desolasi adalah keadaan jiwa yang penuh dengan kegelapan, kebingungan, kekeringan rohani, dan perasaan jauh dari Tuhan
Homili, KeuskupanAtambua.org – Mengasihi dan Mengampuni sebagai Panggilan Illahi – oleh RD. Gabriel Irenius Minggu Ketujuh Masa Biasa, Tahun Liturgi…
Paus Fransiskus ingin menghilangkan anggapan bahwa kaum muda hanya “masa depan.” Sebaliknya, mereka dipandang sebagai agen perubahan dan kontributor aktif dalam kehidupan Gereja dan masyarakat saat ini. Mereka membawa kreativitas, energi, dan perspektif baru yang relevan dalam menjawab tantangan zaman.
Bagi OMK, teks ini menjadi panggilan untuk menaruh kepercayaan pada Tuhan, terutama dalam menghadapi tantangan zaman. Pengharapan kepada Tuhan bukanlah sikap pasif, tetapi melibatkan tindakan nyata, seperti burung rajawali yang terbang tinggi dengan kekuatan baru. Dengan pengharapan yang kokoh, OMK dapat berjalan tanpa lelah dan terus melayani Tuhan serta sesama.
Relevansi antara pemberian Janda dan perjuangan para Pahlawan menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada besar kecilnya sumber daya, melainkan pada kemauan untuk berkorban secara utuh
