RENUNGAN HARI MINGGU BIASA XIV

MINGGU, 5 JULI 2020

Bacaan I: Za 9:9-10; Bacaan II: Rom 8: 9.11-13; Injil: Mat 11:25-30

Sr. M. Klarentin, FSGM
Sekretaris Komisi Seminari/Panggilan Keuskupan Atambua

Dalam bacaan suci ini, kita diajak untuk merenungkan kepasrahan kita kepada Allah dengan mengenakan spiritualitas anak kecil. Kita diajak untuk bersikap seperti anak kecil yang pasrah total, tanpa rasa takut kepada penyelenggaraan Allah. Sikap pasrah kepada kehendak Allah juga akan membawa kita pada kedamaian dan ketenangan hidup.
Setiap manusia pasti pernah mengalami banyak tekanan, kegalauan, kekuatiran, keputusasaan dalam hidup, bahkan derita terjadi kalau ada masalah, problema dan kesulitan bahkan beban hidup yang datang silih berganti. Situasi sedemikian dihadapi orang dengan pelbagai cara: Ada yang menyibukkan diri dengan kerja, ada yang lari dari kenyataan dan tanggung jawab, ada yang mencari penghiuran palsu dan kesenangan diri. Namun sebagai orang kritiani tentu kita menghadapinya dengan tenang, penuh kesabaran, pengharapan dan kekuatan. Kita kuat bukan karena kita adalah manusia super hebat yang melebihi rata-rata manusia. Kita kuat dan bertahan karena kita tahu bagaimana bersikap terhadap semua persoalan itu, dan bagaimana menempatkan diri kita didalamnya.
Dengarkanlah perkataan Yesus “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikulah kuk yang Kupasang dan belajarlah dari pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Mat.11:28-29). Keletihan dan kelesuan serta beban berat adalah pemicu keputusasaan dan hilangnya harapan. Tetapi kita disadarkan bahwa dalam Kristus ada harapan. “Marilah kepada-Ku,” demikian ajakan Yesus kepada kita, agar kita selalu mau datang kepada-Nya dalam saat-saat susah dan berbeban, saat-saat dimana kepahitan menutupi hati kita dan kegalauan mengacaukan pikiran kita.
Setiap kita memiliki beban, persoalan dan derita masing-masing. Janganlah kita datang ketempat-tempat yang keliru, ketempat hiburan yang mencelakakan, pemuasan keinginan daging yang mematikan (bdk. Rm. 8:13), lari dari tanggung jawab dan mencari kambing hitam sebagai obyek tudingan kesalahan, atau melakukan tindak kejahatan karena kebrutalan hati kita. Tetapi mari.., datanglah kepada Yesus pembawa berita damai dan sukacita (Za. 9:10). Belajar dari Yesus sumber kebijaksanaan, menghadapi dengan taat dan setia, penuh kerendahan hati dan keyakinan, menempuh jalan yang benar, demikian adalah solusi yang paling tepat. Pertolongan biasanya tersedia di ujung perjuangan. Mengandalkan Tuhan dalam segalanya, maka kita akan memperoleh kekuatan dan kelegaan dalam hidup. Akhirnya marilah kita selalu bersandar kepada Tuhan sebagaimana Santu Paulus: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4: 13) ***

Editor

Diedit oleh Yosef Hello

SHARE