Browsing: Uskup Atambua

Beliau mengaitkan pesan-pesan itu dengan tema umum pertemuan, yakni OMK Berziarah: Cerdas dalam Iman, Sejahtera dalam Hidup, dan Bergembira Memikul Salib. Ziarah iman orang muda bukanlah perjalanan tanpa arah, melainkan proses yang memerlukan kebijaksanaan dan ketekunan. OMK yang beriman tetapi tidak cerdas akan mudah terseret dalam arus yang salah. OMK yang cerdas tetapi tidak beriman akan kehilangan pusat yang memberi makna hidup. Keduanya harus berjalan seiring agar hidup orang muda tidak kehilangan arah.

Maka, para imam dipanggil untuk terus membarui hidup rohaninya. Jangan biarkan kemalasan menjadi pintu masuk bagi kehancuran panggilan. Jadikan doa, Ekaristi, dan kesetiaan pada Kristus sebagai kekuatan utama dalam pelayanan. Imam yang berakar dalam Kristus tidak akan mudah goyah, sebab ia hidup bukan dengan kekuatannya sendiri, melainkan dalam rahmat Tuhan yang setia menyertai.

Uskup menyoroti tantangan dalam dunia pendidikan, di mana ilmu yang tersedia sering kali tidak sebanding dengan kemampuan siswa dalam menyerapnya. Ia menekankan bahwa tanpa belajar, seseorang bisa menjadi objek eksploitasi dan bahkan perusak bagi dirinya sendiri. Ia juga menekankan pentingnya berpikir kritis agar tidak menjadi orang yang tidak berguna. Dalam konteks Masa Prapaskah, Uskup Atambua mengajak para pelajar untuk melakukan tobat sekolah dan tobat konsumsi, menekankan pentingnya pola makan sehat, serta mewaspadai bahaya zat adiktif yang dapat memengaruhi pola kerja otak dan pengambilan keputusan.

Bapak Uskup juga mengakui keterbatasan jumlah klerus di Keuskupan Atambua, sehingga komunikasi yang efektif antara para agen pastoral dan pastor sangat diperlukan. Sebagai bentuk pemberdayaan umat, beliau memberikan tips praktis, seperti membangun kolam ikan dan menanam pepohonan di lingkungan sekolah. Selain itu, beliau menekankan pentingnya menjaga kesehatan jiwa dan raga, serta kesehatan dalam iman dan ilmu.