Browsing: Opini

Saat tampil perdana, Paus Leo XIV dengan suara penuh wibawa, penuh percaya diri dan dengan berbahasa Italia tapi dengan intonasi bahasa Spanyol yang agak kental berkata: “Damai sejahtera bagi kamu sekalian! Saudara dan saudari yang kekasih, ini adalah salam pertama dari Kristus yang Bangkit, Gembala yang baik yang telah memberikan nyawa-Nya bagi kawanan domba Allah. Saya juga ingin agar salam damai ini masuk ke dalam hatimu, menjangkau keluargamu, kepada semua orang, di mana pun mereka berada, kepada semua bangsa, kepada seluruh bumi”.

Kemalasan rohani dalam mempersiapkan homili adalah kesalahan fatal. Homili yang panjang, tidak terarah, dan tanpa persiapan justru menambah beban umat yang sudah lelah dengan berbagai pergumulan hidup. Imam hendaknya mengelakkan diri dari kemalasan Rohani, kothba tanpa persiapan dan berlarut-larut dalam waktu yang lama sangatlah buruk.

Paus Fransiskus mengaktualisasikan pesan ini ke dalam konteks modern dengan menekankan pertobatan ekologis dan solidaritas universal sebagai tanggapan atas tantangan dunia saat ini. Melalui pengharapan yang tidak mengecewakan, umat manusia diajak untuk tidak hanya merenungkan tetapi juga bertindak nyata untuk menciptakan harmoni dengan sesama dan seluruh ciptaan. Tahun Jubileum adalah panggilan untuk menghidupi kasih Allah yang nyata, bertindak dalam keadilan, dan merawat dunia ini sebagai rumah bersama yang penuh rahmat dan kasih untuk generasi mendatang.

Sheen menutup dengan peringatan bahwa kekayaan batin seorang imam tidak ditentukan oleh penampilan luar, tetapi oleh kerendahan hati dan komitmen kepada Kristus. Dalam dunia yang sering terjebak oleh gemerlap materi, seorang imam dipanggil untuk hidup sederhana, karena hidupnya adalah saksi dari kekayaan batiniah yang melampaui segalanya

Yesus tidak hanya menolak untuk terperangkap dalam spiral keheningan, tetapi juga menginspirasi pengikut-Nya untuk menjadi suara kenabian di tengah masyarakat yang seringkali tidak ramah terhadap perubahan moral dan sosial. Dalam tradisi spiritual, suara kenabian ini berfungsi sebagai koreksi terhadap ketidakadilan dan ketimpangan yang dilegitimasi oleh opini publik yang dikuasai oleh kelompok mayoritas. Oleh karena itu, perspektif spiritualitas Yesus menghadirkan kritik teologis terhadap Teori Spiral Keheningan dengan menempatkan suara kebenaran sebagai tanggung jawab moral yang melampaui sekadar kepentingan pribadi atau rasa takut akan isolasi sosial.