Yesus menegur orang Farisi karena ketelitian membayar persepuluhan sampai tanaman kecil, tetapi mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Kritik ini tidak menolak hukum. Justru Yesus mengembalikan hukum pada tujuannya: menuntun manusia kepada relasi benar dengan Allah dan sesama. Ketaatan yang kehilangan kasih berubah menjadi formalitas.
Browsing: Renungan Serial
Berikanlah sedekah: sedekah bukan hanya sekadar memberi uang atau barang kepada yang membutuhkan. Lebih luas, sedekah adalah segala bentuk kebaikan yang kita berikan kepada orang lain berupa senyuman, nasehat, pertolongan tenaga, doa maupun berbagi ilmu. Hal- hal itu dilakukan dengan sukarela, tulus tanpa pamrih bukan karena terpaksa atau ingin dipuji orang lain. Hasil dari tindakan memberi tanpa pamri itu adalah kemurniaan hati dan jiwa yang menghilangkan sifat iri, tamak, pelit, cinta berlebihan pada harta dan hati menjadi lebih tenang dan damai. Hati bersih, jiwa damai, dan kehidupan lebih tenang.
Dalam perikop ini, Nabi Yunus menjadi tanda pertobatan bagi banyak orang yang meminta tanda. Nabi Yunus keluar dari perut ikan setelah tiga hari. Tanda terbesar bagi kita umat Kristen dan katolik khususnya) adalah Kristus. Melalui kematian, penguburuan di Makam, hingga pada kebangkitanNya, Kristus menjadi model dan modal dalam membangun kehidupan iman yang benar. Dialah jalan, kenenaran dan hidup, yang memerdekakan. Karena itu, tanda paling nyata dari Allah bagi hidup kita orang percaya, bukan keajaiban lahiriah, melainkan sebuah hati yang mau bertobat dan mau membaharui hidup terus menerus menurut kehendak dan rencana-Nya. Supaya Tuhan menjadikan semuanya itu indah pada waktunya.
Yesus menggambarkan Kerajaan Surga seperti seorang Raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Raja itu mengundang banyak orang. Ini adalah gambaran Hati Allah. Allah adalah Raja yang penuh kasih yang membuka pintu-Nya lebar -lebar untuk semua orang.
Penginjil Lukas hari ini, menampilkan sebuah dialog singkat yang spontan antara Yesus dan seorang wanita dari kerumunan orang banyak yang sedang mendengarkan pengajaranNya. Wanita itu kagum oleh kebijaksanaan dan mukjizat yang dibuat Yesus, memberikan pujian kepada Maria, ibu Yesus. “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau”. Bagi Masyarakat Yahudi saat itu, ibu dari seorang tokoh besar adalah puncak kehormatan dan kebahagiaan. Bagi wanita itu, keberuntungan terbesar Maria adalah secara fisik mengandung dan menyusui sang Mesias. Namun tanggapan Yesus atas pujian kepada ibuNya itu justru di luar dugaan. Ia tidak menolak untuk menghormati ibuNya tetapi menuntun wanita itu dan para pendengarNya untuk lebih focus kepada sumber kebahagiaan yang sesungguhnya. Yesus berkata “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman dan memeliharanya”.
Hari ini Yesus mempertunjukkan Kuasa Ilahi dengan mengusir setan, mengalahkan iblis dan merampas miliknya.
Perumpamaan tentang sahabat di tengah malam lahir dari budaya Timur Dekat yang menjunjung keramahtamahan. Menolak tamu berarti mempermalukan rumah. Karena itu, kegigihan mengetuk bukan sekadar desakan, melainkan keberanian mempercayai relasi.
Doa diajarkan Tuhan agar dijadikan kekuatan Rohani yang membentuk hati dan mengukir jiwa, yang memampukan pendoa dapat berdiri kokoh di medan laga menegakkan Kerajaan Allah di bumi ini. Doa orang beriman menyentuh ketinggian langit dan kemuliaan surgawi, menghubungkan orang beriman langsung dengan roh Allah, sumber kepenuhan hidup. Doa adalah jalan utama yang membentuk hati menjadi serupa dengan Kristus, Sang Pendoa Abadi di hadapan Bapa.
Ada tiga hal yang dapat direfleksikan terkait perikop ini dalam hidup kita sebagai orang percaya: Pertama, berhati-hatilah terhadap kecemasan, kemarahan, kekecewaan dan aneka perasaan negatif lainnya dalam pelayanan. Sebagaimana Marta sibuk melayani hingga diliputi oleh kecemasan, sehingga tak kuasa melontarkan kata-kata ini: “Tuhan tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantuku!
Menjadi sesama berarti tidak memandang latarbelakang suku, agama, dan status sosial seseorang. Sebaliknya mengasihi tanpa pamrih. Sederhana, namun tidak gampang. Menjadi sesama dengan kasih yang besar sebagai jalan untuk memperoleh hidup yang kekal, butuh pengorbanan dan penyangkalan diri.
